Home > Uncategorized > KETERPAKAIAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN SEJARAH : TINJAUAN BERDASARKAN ASPEK METODOLOGI SEJARAH.

KETERPAKAIAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN SEJARAH : TINJAUAN BERDASARKAN ASPEK METODOLOGI SEJARAH.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Yang saya hormati :
Ketua dan Anggota Majelis Wali Amanah
Rektor dan Para Pembantu Rektor
Ketua dan Anggota Dewan Audit
Ketua dan Anggota Senat Akademik
Ketua dan Anggota Dewan Guru Besar
Pimpinan Fakultas, Sekolah Pascasarjana, Direktur Kampus Daerah dan Ketua Lembaga
Direktur Direktorat, Kepala Biro, dan Sekretaris Universitas
Ketua Jurusan, Ketua Program Studi, Sekretaris Jurusan, serta Para Dosen
Pimpinan Organisasi Kemahasiswaan dan Seluruh Mahasiswa
Para Karyawan di Lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia
Para Undangan yang berbahagia

Pertama-tama perkenankanlah saya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt, atas segala nikmat dan karunia Nya, sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang terhormat ini. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan Nabi Muhammad saw beserta seluruh keluarga dan kerabatnya.

Secara tulus dan mendalam saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak dan Ibu yang berkenan hadir pada acara pidato pengukuhan Guru Besar saya dalam bidang Pendidikan Sejarah di Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia.

Pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan menyampaikan pemikiran saya tentang KETERPAKAIAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN SEJARAH : TINJAUAN BERDASARKAN ASPEK METODOLOGI SEJARAH.

PEMBELAJARAN SEJARAH MASA KINI
Hadirin yang saya muliakan,
Sejarah berarti cerita atau kejadian atau peristiwa yang benar-benar sudah terjadi atau berlangsung pada waktu yang lalu, yang telah diteliti oleh penulis sejarah dari masa ke masa. Jika dikaji pernyataan di atas, terdapat enam hal yang memperlihatkan karakteristik sejarah yakni cerita, peristiwa, telah terjadi, waktu lampau, hasil penelitian, penulis sejarah, dan masa ke masa. Keenam hal ini merupakan sendi yang menjadi landasan orang berpikir tentang sejarah.
Apa yang disebut sejarah adalah merupakan cerita dari peristiwa yang sesungguhnya di mana peristiwa tersebut sudah berlalu. Dari posisi peristiwa sampai terwujudnya cerita sejarah, kajian dilakukan melalui empat tahap yakni pengumpulan sumber-sumber dari peristiwa, kajian terhadap evidensi, kajian interpretasi evidensi, dan membangun cerita sejarah berdasarkan kritik terhadap evidensi dan interpretasi. Kriteria membangun suatu cerita sejarah didasarkan pada beberapa konsep dasar yakni konsep waktu, konsep ruang, konsep peristiwa yang di dalamnya melibatkan pelaku, penafsiran, dan konsep keunikan dalam sejarah. Dengan demikian dapat dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah gambaran masa lampau tentang manusia sebagai mahluk sosial dan lingkungan hidupnya, yang disusun secara ilmiah dan lengkap, yang meliputi urutan fakta-fakta pada masa lampau, dengan tafsiran dan penjelasan, yang memberikan pengertian dan pemahaman tentang apa yang telah lalu

FILOSOFI KONSTRUKTIVISTIK DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH
Hadirin yang saya hormati, berbicara mengenai filosofi konstruktivistik dalam pembelajaran sejarah maka dapat dijelaskan sebagai berikut.
Gagasan utama constructivism adalah bahwa seseorang belajar secara terkonstruksi, membangun pengetahuan berlandaskan apa yang telah dimiliki. Di sini terdapat dua pengertian yakni (a) siswa mengkonstruk pemahaman baru dengan menggunakan apa yang telah mereka ketahui sebelumnya, dan (b) belajar adalah proses aktif, di mana peserta didik dihadapkan dengan apa yang mereka pahami dan dipertemukan dengan situasi yang baru.
Menurut Teori Kognitif, cara terbaik bagi manusia untuk memperoleh pemahaman dan peningkatan perkembangannya adalah dengan cara mengetahui bagaimana ia harus berpikir. Dalam kaitannya dengan belajar, hal ini mengacu kepada menggunakan dan mengembangkan proses mental berpikir. Belajar bukan sekedar mentransmisikan pengetahuan secara verbal tetapi harus dikonstruksi dan direkonstruksi oleh peserta didik.
Di sini dapat dilihat bahwa dasar pemikiran kelompok Konstruktivist tentang belajar adalah bahwa belajar mengacu kepada pengertian proses informasi secara mental, artinya peserta didik mengorganisasi atau melakukan asosiasi informasi baru yang masuk dengan pengetahuan yang telah mereka miliki. Dalam hal ini mereka mengkonstruksi dan merekonstruksi struktur kognitifnya. Jika dihadapkan dengan materi sejarah, maka yang terjadi adalah proses berpikir sejarah. Berpikir kesejarahan melibatkan aspek-aspek menyimpulkan dalam sejarah dan imajinasi dalam sejarah (Cooper, 1992).
Imajinasi dalam sejarah dikembangkan melalui berpikir kreatif (Cooper, 1992 : 20). Berpikir kreatif mempunyai implikasi dalam hal bagaimana siswa dapat memahami tentang rentang valid evidensi yakni bagaimana evidensi dibuat dan digunakan, dan apa maknanya bagi masyarakat pada masa itu.

BELAJAR SEJARAH MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI
Hadirin yang saya hormati,
Sejalan dengan berkembangnya inovasi bidang teknologi komputer yang terakses ke internet pada awal dekade 90-an maka sumber-sumber belajar atau pengetahuan menjadi sangat mudah untuk diperoleh. Inovasi ini mengubah paradigma pendidikan dari perolehan tingkat pengetahuan dan keterampilan yang konstan setelah selesai mengikuti pendidikan, menjadi paradigma pengetahuan dan keterampilan selalu diperbaharui dalam waktu singkat. Masyarakat, perusahaan, atau negara-negara yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan mengkreasi serta menyebarkan pengetahuan secara efisien akan memperoleh kesempatan pertama dalam hal keberhasilan persaingan global yang tengah terjadi saat ini (Cisco, 2001).
Kemampuan akses ke internet tidak hanya didasarkan kepada kemampuan memiliki komputer yang dapat memasuki jaringan internet, melainkan juga dibutuhkan keterampilan menjelajah dunia maya tersebut dalam rangka memperoleh informasi yang dibutuhkan. Pada posisi inilah e-learning berfungsi mendekatkan seseorang dengan sumber informasi yang diperlukannya. Persoalannya adalah bagaimana memperoleh informasi melalui internet tersebut secara tepat dalam pengertian memperoleh informasi apa yang diperlukan (efektif) dan informasi tersebut diperoleh dengan biaya murah (efisien).
Belajar sejarah melalui teknologi informasi dapat diartikan sebagai upaya memperluas wawasan kesejarahan yang diperoleh di sekolah dengan menggunakan internet (e-learning) melalui berbagai situs yang terdapat dalam jaringan internet sebagai sumber informasi. Di sini terlihat bahwa belajar sejarah melalui teknologi informasi memperkuat teori konstruktivistik yang mengemukakan bahwa belajar dikonstruksi oleh peserta didik.
Terminologi memperluas wawasan tidak hanya diartikan sebagai menambah pengetahuan, melainkan juga menyangkut persoalan solusi terhadap tantangan pembaharuan (updates). Dalam hal ini guru tidak hanya memberikan materi sejarah sebagai bagian dari menyelesaikan content kurikulum, tetapi mencoba mengembangkan pola berpikir kesejarahan siswa melalui berbagai informasi tentang sejarah yang selalu berkembang dalam jaringan internet. Dengan demikian belajar sejarah akan sangat menarik bagi siswa, sebab perolehan informasi tidak hanya satu arah (dari guru ke siswa) tetapi juga dapat diperluas sendiri oleh siswa melalui situs-situs sejarah di internet.
Persoalan yang muncul adalah apakah informasi yang diperoleh melalui internet sudah sesuai dengan metodologi sejarah, khususnya dalam hal keabsahan informasi sebagai sumber sejarah. Helius Sjamsuddin (1996 : 18) menjelaskan bahwa tujuan ilmu sejarah adalah memelihara hasil-hasil penelitian sebagai pengetahuan yang bermakna dan berguna. Melalui bentuk sejarah yang diwujudkan ke dalam ceritera sejarah, dapat dikenali sejarah, berupa gambaran yang dilukiskan mengenai berbagai aktivitas manusia dalam masyarakat pada masa lampau yaitu fakta-fakta sejarah, dianalisis dan ditafsirkan serta disusun di dalam ceritera sejarah. Di sini terlihat bahwa sejarah dibangun atas dasar fakta yang dikumpulkan melalui evidensi, dan berdasarkan hasil rekabangun peristiwa sejarah itulah siswa belajar untuk menemukan makna/arti peristiwa bagi pembentukan karakter pribadinya.
Untuk kepentingan pembelajaran, sejarah diposisikan sebagai bagian pembentukan sikap dan karakter pribadi. Melalui kisah/cerita sejarah diharapkan siswa mampu mengenali perjalanan sejarah bangsanya dan mengambil nilai-nilai positif yang dapat membentuk karakter pribadinya. Dengan demikian seharusnya pembelajaran sejarah memberi kesempatan kepada siswa untuk memperluas wawasannya sesuai dengan pemahaman para constructivist. Persoalan akan berkembang manakala siswa mulai akses ke internet dalam rangka memperluas wawasan pengetahuan kesejarahannya. Dalam internet, semua situs dapat diakses tanpa ada satu pihakpun yang mampu menutupnya. Berbagai tulisan/artikel dapat diakses oleh siswa untuk kepentingan perluasan wawasan; tetapi jika ditinjau dari aspek metodologi, tidak semua informasi dapat digunakan sebagai sumber informasi. Terdapat dua persoalan yang teridentifikasi yakni persoalan content informasi yang seringkali dianggap tidak sesuai dengan kenyataan, dan hal ini tentu saja akan membingungkan baik siswa maupun guru; dan persoalan konstruksi situs yang bersifat interaktif , artinya situs yang dibangun dapat diubah atau diisi oleh orang lain. Sebagai contoh situs-situs berbasis Web 2.0 yang bentuknya berupa blog. Apakah situs-situs yang demikian dapat dipakai atau bahkan tidak dapat dipakai sebagai bagian dari sumber sejarah? Tidak sedikit ditemukan situs-situs blog berisikan cerita sejarah yang cukup baik, tetapi karena sifat situs blog yang tidak mengedepankan nama penulis dan dapat diupdate oleh orang lain, maka situs tersebut seringkali diragukan keabsahannya secara metodologis sejarah.
Persoalan pertama dapat diatasi dengan dikembangkannya pembelajaran dengan bentuk fokus pada isu kontroversial. Model pembelajaran ini mempunyai kekuatan dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis. Pada posisi ini pembelajaran sejarah tidak lagi berfokus pada penghafalan terhadap fakta-fakta sejarah melainkan pada kemampuan memperkuat metodologi sejarah sebagai bagian dari pemahaman terhadap sejarah. Persoalan kedua lebih ditujukan kepada para sejarawan untuk meninjau kembali content metode sejarah. Barangkali para sejarawan perlu melihat kembali unsur heuristik dan kritik dalam metode sejarah. Bagaimana sumber sejarah yang dapat digunakan sebagai bagian dari prosedur heuristik, dan bagaimana mempertajam unsur kritik terutama kritik internal terhadap keabsahan isi situs sebagai bagian dari sumber sejarah. Di sini diperlukan pengembangan kemampuan menemukenali originalitas sumber yang terdapat dalam internet melalui pemahaman terhadap karakteristik teknologi informasi.
Hal lain yang teridentifikasi melalui penelaahan terhadap sumber sejarah di internet adalah upaya digitalisasi terhadap sumber-sumber sejarah primer. Terdapat begitu banyak sumber primer di Belanda dalam bentuk cetak. Untuk mengurangi beban biaya pemeliharaan sumber primer tersebut pemerintah Belanda bermaksud mengubahnya dalam bentuk digital berbasis teknologi informasi. Persoalan akan muncul manakala sumber primer tersebut ditulis ulang, tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan (human error) atau bahkan akan masuk unsur2 kesengajaan untuk membelokkan sejarah. Sekali lagi di sini diperlukan penajaman terhadap arti dan makna heuristik, kajian terhadap aspek kritik internal, serta kemampuan menemukenali berbagai aspek/unsur yang terdapat dalam teknologi informasi. Adalah tugas dari para sejarawan untuk mengkaji lebih lanjut persoalan ini, sebab kebutuhan guru bukan terletak pada metodologi sejarah melainkan sebagai user guru memerlukan bahan content sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan untuk diberikan kepada peserta didiknya.
Di sini terlihat bahwa pengembangan pembelajaran sejarah melalui teknologi internet masih memerlukan pemikiran lebih lanjut, terutama mengantisipasi persoalan-persoalan yang teridientifikasi di atas. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa kita berhenti berpikir untuk melibatkan teknologi informasi dalam pendidikan sejarah, justru di sinilah lahan para akademisi untuk mengembangkan kemungkinan dan solusi terhadap penggunaan teknologi informasi dalam pendidikan sejarah.

UCAPAN TERIMA KASIH
Hadirin yang saya muliakan,
Kebahagiaan yang saya dan keluarga rasakan saat ini terkait dengan pengukuhan guru besar, tidak dapat saya capai tanpa izin dan ridho Allah swt, doa dan dorongan dari semua pihak. Oleh karena itu pada bagian akhir dari pidato ini perkenankan saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Pendidikan Nasional yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk memangku jabatan sebagai guru besar dalam bidang Pendidikan Sejarah di Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia.
Ungkapan penghargaan dan terima kasih disampaikan kepada Ketua dan Anggota MWA, Rektor beserta Pembantu Rektor, Ketua dan Anggota Senat Akademik, Ketua dan para anggota Dewan Guru Besar, serta kepada para penilai sejawat yang telah banyak memberikan dorongan dan motivasi dalam proses pengajuan kenaikan pangkat sebagai guru besar.
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada mantan Dekan FPIPS Prof. Dr. H. Idrus Affandi, SH yang telah berupaya mengusulkan pengajuan kenaikan pangkat ke guru besar, beserta seluruh staf dan karyawan FPIPS yang membantu proses pengurusan ini sehingga semua berjalan dengan lancar. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah Prof. Dr. H. Dadang Supardan, M.Pd., Sekretaris Jurusan Dra. Murdiyah W, M.Hum, pada guru besar di Jurusan Pendidikan Sejarah, para dosen di Jurusan Pendidikan Sejarah baik yang sudah pensiun maupun yang masih aktif bertugas, serta seluruh mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah.
Rasa hormat dan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Dr. H. Asmawi Zainul, MA, mantan Direktur Sekolah Pascasarjana yang telah memberikan kesempatan kepada saya berkiprah di Sekolah Pascasarjana, kepada Prof. Dr. Nana Syaodih, Prof. Dr. R. Ibrahim, MA, yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk meneruskan kepemimpinan di program studi Pengembangan Kurikulum. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Prof. H. Furqon, Ph.D, M.A mantan Direktur Sekolah Pascasarjana dan Prof. Dr. H. Fuad Abdul Hamied, MA Direktur Sekolah Pascasarjana beserta Asisten Direktur I dan II, semua Ketua Prodi yang berada dalam lingkungan Sekolah Pascasarjana, Bapak dan Ibu Dosen di lingkungan Sekolah Pascasarjana khususnya program studi Pengembangan Kurikulum, para karyawan dalam lingkungan Sekolah Pascasarjana, dan tidak lupa para mahasiswa S2 dan S3 program studi Pengembangan Kurikulum yang selalu memberikan suasana akademik yang nyaman, edukatif, produktif, dan penuh rasa kekeluargaan.
Penghargaan yang tinggi ingin pula saya sampaikan kepada guru-guru saya sejak Sekolah Dasar hingga SMA di Perguruan St. Theresia Jakarta, teman-teman satu kelas yang sampai sekarang masih berkomunikasi dan berkenan hadir dalam acara ini. Guru-guru saya di Fakultas Sastra Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran Bandung dan teman-teman satu angkatan.
Ucapan terima kasih tak terhingga saya sampaikan kepada Ayahanda tercinta yang pada masa hidupnya selalu mendo’akan dan mendorong saya untuk berprestasi. Nasehat-nasehat yang pernah beliau berikan menjadi penawar kesejukan di kala duka menghantui kerinduan akan kehadiran beliau; Ibunda tercinta beserta kakak-kakak dan adik tercinta, yang tiada hentinya selalu mendo’akan dan menghantarkan saya menjadi sosok seperti ini.
Demikian pula terima kasih tak terhingga saya sampaikan melalui do’a yang tidak berkesudahan kepada suami tercinta (alm) Deden Abudin, yang begitu menyayangi keluarga, memberikan pengorbanan besar terhadap kemajuan saya, meski ia tidak sempat merasakan apa yang saya rasakan sekarang. Kepada kedua anak saya Alfa Aphrodita dan Ahmad Vesuvio, serta Aldo Ikhwanul Khalid yang selalu memberikan dorongan dan pengertiannya terhadap kesibukan saya, ucapan terima kasih mungkin terasa tidak cukup, tetapi itulah yang dapat ibu ungkapkan saat ini. Mudah-mudahan ini menjadi pemicu kalian untuk berprestasi lebih baik.
Pada akhirnya kepada hadirin yang saya hormati, pada kesempatan yang berbahagia ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesabarannya mendengarkan pidato ini, serta mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan di hati hadirin sekalian. Semoga Allah swt melimpahkan taufik dan hidayah Nya kepada kita semua, amin..
Wabilahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Advertisements
Categories: Uncategorized
  1. November 25, 2010 at 1:46 pm

    It’s a bless to have u as my lecture. Terus berkarya ya ibuu… 😀

    • December 16, 2010 at 10:53 pm

      terima kasih ya Yasmin 🙂
      mudah2an saya mampu mengemban amanah yang cukup berat ini

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: