Home > Uncategorized > MASALAH PLAGIARISME DALAM PENULISAN

MASALAH PLAGIARISME DALAM PENULISAN

Dunia Pendidikan Tinggi mulai menggeliat dengan persoalan plagiarisme dalam menghasilkan karya tulis. Dikti sebagai lembaga pemerintahan yang mengurus semua persoalan tentang pendidikan tinggi sudah bertekad untuk mengurangi, bahkan jika memungkinkan menghapuskan plagiarisme, dengan cara memperketat pemeriksaan terhadap naskah/artikel jurnal, buku, atau karya ilmiah dalam rangka pengusulan kenaikan pangkat bagi para dosen. Menarik untuk mengkaji dan menelusuri persoalan ini, jika kita lihat dari sisi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (baca ICT).

Kemudahan untuk melakukan copy-paste melalui teknologi informasi menyebabkan seolah-olah plagiarisme menjadi mewabah. Padahal di sisi lain, karya ilmiah seseorang mencerminkan keluasan dan kedalaman pola pikirnya; memperlihatkan kepantasan seseorang menjadi pengajar pada tingkat pendidikan tinggi; menjadi panutan bagi para mahasiswanya; sehingga rasanya kurang pantas jika seorang dosen melakukan cara copy-paste dalam menghasilkan suatu karya atau artikel ilmiah.

Dari sisi kajian sejarah, persoalan ini bermuara dari metodologi sejarah langkah pertama yakni langkah heuristik. Kajian sejarah, atau jika seseorang akan mengembangkan tulisan tentang sejarah, maka ia dituntut melakukan langkah heuristik sebagai langkah pertama. Heuristik mengacu kepada pengumpulan sumber/referensi sebagai dasar menemukan fakta, sehingga ketika kita lakukan langkah ini maka kemudian akan diikuti dengan kritik terhadap artikel/referensi yang kit temui tersebut.

mencermati persoalan ini, saya mencoba menelusuri artikel-artikel sejarah yang ada di dunia maya (katakanlah ini sebagai langkah awal dalam heuristik). Saya mencari tulisan dengan kata kunci artikel sejarah. Kemudian saya menemukan dua artikel melalui alamat situs di bawah ini. 

http://tifandhaluhzan.wordpress.com/2008/07/12/artikel-unik-sejarah-republik-indonesia/

http://memoridunia.blogspot.com/2010/02/yang-unik-tentang-sejarah-indonesia.html

1. Setelah anda cermati kedua artikel tersebut, apa komentar anda?

2. bagaimana anda menyikapi persoalan plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah?

3. Apa yang anda pahami mengenai metodologi sejarah langkah pertama? dan bagaimana posisi keberadaan kedua artikel ini bila dilihat dari metodologi sejarah?

Silahkan buat tulisan/respon anda terhadap ketiga pertanyaan saya tersebut di atas

Advertisements
Categories: Uncategorized
  1. Intan Wulandari
    September 22, 2011 at 2:57 pm

    1. Setelah anda cermati kedua artikel tersebut, apa komentar anda?
    Kedua artikel tersebut memiliki kesamaan persis. Seperti tugas seorang mahasiswa yang di copy-paste temannya atau seorang mahasiswa yang mengcopy-paste tugas lewat tulisan yang ada di internet. Menurut saya tentu ada salah satu diantara kedua penulis tersebut yang mengcopy-paste atau menjadi plagiat dalam hal kesamaan dalam artikel ini. Karena sangat akan tidak mungkin jika ada dua orang yang berada dalam tempat yang berbeda dan rentang waktu yang terlampau lama yaitu sekitar 2 tahun lamanya akan mempunyai tulisan yang sama persis, walaupun memiliki ide yang sama akan tetapi setidaknya cara menuangkan ide dalam sebuah tulisan itu pasti akan dirasa berbeda. Begitulah menurut pendapat saya.
    2. bagaimana anda menyikapi persoalan plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah?
    Persoalan plagiarisme memang bukan hal yang jarang kita temui, bahkan setiap saat setiap detik kita pasti akan bersinggungan dengan hal tersebut. Namun dalam menyikapi hal ini tentu saja dibutuhkan kesadaran dari diri kita sendiri terutama dalam memaknai dan memahami tentang plagiarisme tersebut. Terutama dalam karya (artikel) sejarah, akan sangat terlihat jelas tentang praktek plagiarisme tersebut karena berhubungan dengan sudut pandang seorang penulis terhadap sebuah peristiwa, tentu saja dalam prakteknya akan terlihat berbeda, tidak akan yang menyamai walaupun berasal dari suatu ide yang sama.
    3. Apa yang anda pahami mengenai metodologi sejarah langkah pertama? dan bagaimana posisi keberadaan kedua artikel ini bila dilihat dari metodologi sejarah?
    Metodologi sejarah langkah pertamanya yaitu heuristik, mencari sumber sejarah. Namun yang dapat saya pahami adalah terdapatnya tanggal dalam setiap artikel memungkinkan kita untuk mengetahui siapa yang terlebih dahulu menulis dan mempostingnya di blog.

  2. September 22, 2011 at 3:39 pm

    Nama : Siska Nurmalasari
    NIM : 1002008

    1. Dari kedua artikel diatas setelah saya cermati, memang identik dari mulai cara penulisannya dan tidak akan bisa diketahui langsung, diantara penulis artikel ini yang bisa di sebut sebagai plagiator. Dan dalam kasus ini bisa disebut plagiarisme, karena dari mulai cara penulisannya pun sangat mirip. Dan penulis artikel ini mungkin entah mengambil dari sumber mana tapi tanpa memberikan anotasi yang jelas tentang sumbernya. Jadi memang sulit membedakan penulis yang mana yang menjadi plagiator. Kasus plagiarisme ini bukan hanya terjadi sekali, mulai dari plagiarisme karya ilmiah, tugas kuliah,skripsi dan yang lainnya. Dan memang seharusnya kasus plagiarisme ini tidak terjadi di kalangan akademis, mungkin juga mahasiswa melakukan plagiarisme ada alasannya. Memang bagi kalangan akademis membuat karya tulis atau sejenisnya adalah tuntutan untuk mendapat degree yang diinginkan. Dan bisa saja orang yang melakukan plagiarisme ini mempunyai latar belakang alasan kenapa kebanyakan orang melakukan plagiarisme,khususnya dalam bidang akademik. Mungkin latar belakang terjadinya kasus ini dikarenakan oleh keteledoran para pembimbing. Seharusnya para pembinmbing ini selain membimbing juga mengawasi perkembangan anak didiknya. Tetapi karena pembimbing begitu sangat percaya kepada anak didiknya dan akhirnya anak didiknya malas dan mulailah dia menjadi plagiator.
    2. Menurut saya, plagiarisme dalam penulisan karya tulis (artikel) sejarah, harus di tangani secara serius, karena sejarah itu peristiwa dan fakta di masa lalu yang tidak bisa di rubah dilihat dari bukti-bukti sejarah itu sendiri. Dan tidak seharusnya plagiarism dalam penulisan karya tulis sejarah terjadi, karena mungkin aka nada banyak kejanggalan dan akan dipertanyakan sumber-sumber yang sangat jelas. Seperti banyak contoh : hanya di Amerika Serikat ada istilah “fair use” (penggunaan yang wajar) adalah sebuah aspek hukum hak cipta Amerika Serikat yang mengizinkan penggunaan bahan-bahan yang telah dilindungi hak cipta dalam karya penulis lain di bawah syarat-syarat tertentu. Penggunaan wajar membuat karya yang terlindung hak cipta tersedia kepada publik sebagai bahan dasar tanpa perlu meminta izin, asalkan penggunaan gratis tersebut tidak melanggar hukum hak cipta, yang didefinisikan Konstitusi AS sebagai penyebar luasan “kemajuan Sains dan Seni-seni yang berguna” (kutipan asli dalam bahasa Inggris: “the Progress of Science and useful Arts”). http://id.wikipedia.org/wiki/Penggunaan_wajar.
    3. Dalam metodologi sejarah langkah pertama yaitu heuristik, dan dalam artikel ini menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain dan mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya adalah plagiarism.

  3. September 22, 2011 at 4:23 pm

    Nama : Asep Yendi D
    Untuk jawaban nomor satu, kedua artikel itu sama saja dan tidak ada bedanya dalam segi isi dan konten, dan bedanya hanya pada sumber saja. Untuk yang artikel yang pertama diperoleh dari situs kaskus dan yang kedua diperoleh dari blog pribadi yang masih dipertanyakan kredibelitas dan pemahaman/kemampuan tentang pengetahuan sejarahnya. Jadi, saya memilikui anggpan bahwa kesua artikel itu sama-sama Plagiat. Sehingga menimbulkan sikap apatis dan skeptis kepada pembaca karena keabsahannya dan cenderung main-main.
    untuk jawaban nomor dua, khusus pribadi saya, saya akan mentikapinya dengan cara memilah-milah penulis artikel sejarah. Apakah orang itu berkompeten dalam pemahaman sejarahnya atau tidak?. Seandainya tidak berkompeten dan dia spesialisasinya bukan di sejarah maka saya akan menjadikan artikel itu hanya sebagai referensi atau pelengkap saja.
    untuk jawaban nomor tiga, Heuristik adalah upaya mencari atau menemukan jejak-jejak sejarah (traces). Jejak sejarah sendiri adalah apa-apa yang ditinggalkan oleh aktivitas manusia (baik aktivitas politik, ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya) pada masa lampau yang menunjukkan bahwa benar-benar telah terjadi peristiwa yang dimaksud.
    Apabila ditinjau dari aspek heuristik, artikel ini sungguh tidak sesuai karena ini memang benar terjadi atau tidak. Upaya pencarian kejadian dalam kedua artikel ini patut dpertanggung jawabkan karena adakah bukti otentik yang jelas? atau tidak ada sama sekali, saya hanya mengkritisi berbagai anggapan dalam kedua artikel ini yang cenderung konyol.
    Untuk aspek kritik sejarahnya baik internal maupun eksternal dalam penulisan artikel ini sangat tidak dilihat atau digunakan. saya beranggapan mungkin penulis kedua artikel ini pengen yang instan saja dan bisa menarik perhatian pembaca.
    kemudian untuk aspek interpretasi fakta , dalam artikel ini dalam satu kejadian ini tidak ada keterkaitan yang jelas dan kredible dan ini patut kita kaji dan analisis apakah kejadian itu benar terjadi atau tidak.
    Dan terakhir aspek historiografi, mungkin untuk membangun keterkaitan antar fakta sejarah berhasil dirumuskan, melalui kegiatan interpretasi untuk penyusunan cerita sejarah untuk kedua artikel ini mesti di tinjau ulang kembali. Karena tidak sesuai dengan kaidah historiografi, jadi tidak ada keterkaitan fakta sejarah dan penginterpretasian dalam kedua artikel tersebut..

  4. September 22, 2011 at 4:38 pm

    Nama :Sansan Moch Ihsan
    Nim :1005831
    Jurusan :Pend. Sejarah

    Setelah saya membaca artikel tersebut, saya mempunyai beberapa pandangan terhadap kasus plagiarisme.
    1. Setelah membaca artikel tersebut, memang benar kasus plagiarisme memang tidak pantas untuk dilakukan dalam segala hal, apalagi dalam dunia pendidikan. Sungguh kasus yang mengejutkan jikalau ada dosen yang melakukan plagiarisme dalam menghasilkan suatu karya ilmiah. Karena sosok seorang dosen adalah sosok pencetak generasi penerus, jika yang mencetak nya melakukan hal yang memalukan apalagi hasil cetakannya pasti tidak akan jauh dari apa yang di lakukan oleh gurunya, sehingga generasi penerus yang akan menjadi seorang guru yang di teladani tidak akan memliki kualitas yang baik. Maka dari itu kasus plagiarisme adalah kasus yang dapat menumpulkan potensi-potensi fositif dalam diri kita karena dengan plagiarisme otak kita secara tidak langsung di rancang untuk tidak berfikir sama sekali.
    2. Plagiarisme dalam suatu karya ilmiah sejarah akan merugikan orang yang membuat karya tulis ilmiah tersebut. Orang yang sudah melakukan plagiarisme dalam penulisan karya ilmiah bisa di katakan sebagai orang yang tidak bisa menghargai orang lain, dimana orang yang melaukan plagiarisme terhadap suatu karya ilmiah sejarah tidak menghargai sedikit pun hasil pemikiran orang yang membuatnya. Selain itu orang yang melakukan plagiarisme secara tidak langsung menujukan pada khalak umum bahwa dirinya tidak berkualitas sedikit pun. Karena perbuatan plagiarisme adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh dan tidak memiliki suatu inisiatif yang baru.
    3. Metodologi sejarah langkah pertama ( heuristik ) adalah tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan topik atau judul penelitian. Sumber-sumber tersebut adalah apa-apa yang di tinggalkan aktifitas manusia di masa lampau yang menunjukan bahwa benar-benar telah terjadi peristiwa yang di maksud. Bila dilihat dari metodologi sejarah, posisi kedua artikel ini bisa di katan sebagai tahap akhir yakni tahap historiagrafi. Yang mana kedua artikel ini bisa disebut sebagai kesimpulan yang di dapat dari sumber-sumber yang ada.

  5. sarah windika
    September 22, 2011 at 4:42 pm

    Nama : Sarah Windika
    Nim : 1001450
    Pendidikan Sejarah / Kelas E
    1. Setelah anda cermati kedua artikel tersebut, apa komentar anda?
    Jawaban : Setelah saya membaca dan memahami kedua artikel ini sangat tidak begitu beda jauh, artikel yang bagus dan membuat kita menarik untuk membaca dan mempelajarinya membuat kita ingat akan pengorbanan para pahlawan ketika memerdekaannya negara Indonesia ini. Artikel yang membuat bangsa kita untuk lebih bangga akan kemerdekaan negara kita.

    2. Bagaimana anda menyikapi persoalan plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah?
    Jawaban : Karya tulis yang sangat rapih dengan kata-katanya dan bagus akan sumber bahasannya menguatkan untuk menciptakan karya tulis ini. Plagiarisme akan penulisan karya tulis harus lebih menarik agar semua orang menarik untuk membaca, mengkaji dan mengetahui akan karya tulis yang dibuat. Persoalan Plagiarisme yang bisa menciptakan karya tulis yang baik dan benar.

    3. Apa yang anda pahami mengenai metodologi sejarah langkah pertama? dan bagaimana posisi keberadaan kedua artikel ini bila dilihat dari metodologi sejarah?
    Jawaban : Langkah pertama dalam metodologi sejarah yaitu Heuristik, heuristic sendiri adalah tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan topik atau judul penelitian. heuristik adalah suatu teknik, mencari dan mengumpulkan sumber. Dengan demikian heuristik adalah kegiatan mencari dan mengumpulkan sumber. Dalam hubungan penelitian, peneliti mengumpulkan sumber-sumber yang merupakan jejak sejarah atau peristiwa sejarah. Jadi, kedua artikel ini belum bisa dijadikan sumber sejarah, karena fakta yang ada belum sesuai dengan apa yang kita tahu selama ini. Sumber yang belum bisa menguatkan akan kenyataan yang ada, sumber yang pasti dan cerita yang fakta yang bisa membuat kita percaya akan cerita yang ada di kedua artikel tersebut.

  6. September 22, 2011 at 5:30 pm

    1. Setelah dilihat ternyata kedua artikel ini membahas hal yang sama dan bahasa yang sama serta menggunakan bahasa tidak baku seakan – akan peristiwa itu dianggap main-main saja, padahal peristiwa tersebut merupakan hal yang terpenting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
    Dari kedua artikel tersebut tidak mencerminkan daya juang atau semangat bagi pembaca sehingga sekilas artikel ini hanya bacaan biasa tanpa nilai-nilai semangat juang.

    2. Plagiarisme atau dalam bahasa awam adalah pekerjaan menjiplak atau menyadur suatu karya ilmiah dan menjadikannya seolah-olah sebagai suatu hasil karyanya sendiri, merupakan sikap yang jelek dimana seseorang yang melakukan hal tersebut merupakan termasuk (criminal academic).Lakukan analisis dan kritik sumber terhadap karya ilmiah yang dibuat.

    3. Proses aktualisasi internal sebuah peristiwa sejarah di masa lampau dilakukan melalui beberapa pendekatan, dalam hal ini adalah pendekatan dalam teori dan metodologinya. Ada beberapa jenis pendekatan yang digunakan oleh sejarawan dalam melakukan rekonstruksi sejarah, setidaknya ada tujuh point teori yang menghiasi cara kerja sang sejarawan dalam proses rekonstruksi.

    Positivisme

    Positivisme diperkenalkan oleh Auguste Comte (1798-1857) dengan karya terkenalnya, Cours de Philosophie Positive, yaitu “kursus tentang filsafat positif” (1830-1842). Positivisme menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.

    Hermeneutika

    Hermeneutika merupakan metode tafsir yang berasal dari Yunani dan berkembang pesat sebagai metode intepretasi Bibel. Hermeneutika adalah sebuah metode interpretasi yang hidup dalam tradisi Nasrani yang kemudian menumbuhkan tradisi Barat sekuler-liberal setelah abad 16 dan 17. Dalam pengertian ini, hermeneutika bukanlah isi penafsiran, hermeneutika lebih menyinggung soal metodenya. Perbedaan antara penafsiran aktual (exegesis) dan aturan-aturan, metode dan teori yang mengaturnya (hermeneutika) sudah sejak lama disadari,ada baik dalam refleksi teologis, maupun refleksi non teologis.

    Strukturalisme

    Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Teori ini adalah jenis pendekatan social dalam memahami setiap gejala sejarah.

    Asumsi dasar dalam teori strukturalisme adalah ada angapan bahwa upacara-upacara, sistem-sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian dan sebagianya, secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasa-bahasa (Lane; 1970; 13-14 Ahimsya; 66).

    Selanjutnyap ara penganut strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal, yaitu kemampuan untuk structuring, untuk menstruktur, menyususun suatu struktur, atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya.

    Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar.

    Semua pendekatan itu dilakukan secara procedural analitik. Diperlukan sebuah ketelitian dan ketekunan ketika kita menggunakan sebuah teori. Argumentasi yang jelas mengenai penyebab terjadinya suatu peristiwa sejarah bisa memberikan nilai tambah bagi sang sejarawan. Dalam rekonstruksi sejarah, peran dan fungsi sejarah terklasifikasikan menjadi tiga jenis, yakni:

    1. Sejarah sebagai sebuah sistem
    2. Sejarah sebagai kesatuan unit
    3. Sejarah nasional sebagai unit global

    Sebagaimana dikemukakan oleh Benedetto Croce[1], setiap sejarah yang benar adalah sejarah yang faktual dan aktual, dalam artian sejarah yang benar adalah sejarah masa kini yang telah mengalami rekonstruksi internal sang sejarawan. Hal ini sejalan dengan orientasi kajian teori dan metodologi sejarah dalam disiplin ilmu sejarah, yakni kebenaran pengetahuan mengenai peristiwa sejarah di masa lampau sang sejarawan atas dasar explanasi atau penjelasan sejarah yang selanjutnya bisa menghasilkan cabang-cabang dalam kajian sejarah sebagai sebuah sebuah ilmu.( http://initialdastroboy.wordpress.com/2011/03/30/teori-dan-metodologi-sejarah-rekonstruksi-peristiwa-sejarah/)
    Adapun tahapan dalam penelitian dalam metodolodi sejarah
    1. Heuristik
    2. Kritik Sumber
    3. Interpretasi
    4. Historiografi

  7. Labibatussolihah
    September 22, 2011 at 5:31 pm

    mengenai sumber dari kedua artikel tersebut, dipertanyakan, karena ketika membuka sumber yang tercantum pada artikel, tidak sesuai. Hal tersebut menimbulkan keraguan terhadap informasi yang terdapat dalam artikel. Untuk itu kita sebagai pengguna internet harus kritis terhadap sumber yang kita dapat mengenai keaslian sumber tersebut.

  8. September 22, 2011 at 5:57 pm

    Nama: Andika Yudhistira Pratama
    NIM: 1005773

    1. Komentar saya terhadap kedua artikel tersebut merupakan salah satu plagiarisme. karena, dalam kedua artikel tersebut isi dan penulisannya sangat mirip sekali dan ini sebenarnya merupakan sesuatu yang tidak baik dan dapat merugikan penulis yang asli dan ini sama dengan mencuri kekayaan intelektual orang lain.

    2.Menurut saya, kegiatan plagiarisme adalah suatu tindakan yang tidak baik dan hanya akan merugikan bagi yang melakukannya. karena, dengan plagiat seseorang tidak akan menjadi lebih baik atau lebih pintar, sebab seseorang yang melakukan plagiat tidak akan mampu untuk menambah atau merubah kemampuannya sendiri dan hanya akan menjadi seorang yang berwatak malas dan sulit untuk menjadi seseorang yang pintar atau cerdas.

    3. Yang saya pahami tentang langkah pertama dalam metodologi sejarah adalah pengumpulan sumber-sumber atau data-data sejarah yang sesuai dengan apa yang akan di teliti oleh seorang sejarawan itu. baik sumber primer yang merupakan sumber langsung dari saksi mata atau pelaku dari peristiwa bersejarah itu sendiri dan sumber yang didapat dari dokumen-dokumen penting atau arsip. serta sumber sekunder yang didapat dari tulisan-tulisan yang berasal dari buku, artikel dan koran.

    keberadaan kedua artikel tersebut bila berdasarkan metodologi sejarah menurut saya dapat dijadikan sebagai sumber sekunder. Namun, keabsahan dan kebenarannya masih perlu dicari dan di kaji kembali karena, salah satu artikel ini menurut saya adalah praktek plagiarisme.

  9. yogi iskandar
    September 22, 2011 at 6:24 pm

    1. Setelah saya membaca dan memahami artikel yang menarik ini, tentunya menambah wawasan baru saya mengenai detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan RI, baik yang kocaknya maupun yang lainnya, mengenai isi dari artikel tersebut menurut saya sudah baik karena yang saya baca dari sumber lain mengenai proklamasi kemerdekaan yang isinya itu kebanyakan membahas tentang inti atau garis besarnya saja tidak mencakup keseluruhan atau tidak membahas sampai hal yang spele, padahal hal yang spele itu bisa menjadi bahan yang menarik orang untuk membaca. seperti hal unik yang saya tangkap setelah membaca dan memahai arikel ini, pemahaman lain selain dari jalanya detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan RI. Mengenai tingkah laku soekarno yang sangat lucu dan menggelitik hati, ketika soekarno menaiki pesawat fighter bomber yang ingin membuang air kecil dilubang dan membasahi semua penumpangnya, akibat dari semburan air kencing soekarno yang tertiup angin yang sangat kencang. Dan hal yang unik dan menarik lainnya setelah proklamasi kemerdekaan RI, ternyata bukanlah sebuah membentuk kabinet atau menandatangani sebuah dekret melainkan memanggil tukang sate, dan pada itulah perintah pertama pada rakyatnya dan pesta pertama atas pengangkatan sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang berusia satu hari.

    2. seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa plagiarisme itu merupakan suatu hal yang sangat jelek sekali apa lagi sekarang sedang maraknya plagiarisme dikalangan pelajar. dan bila ada seseorang yang melakukan plagiarisme dalam sebuah pembuatan artikel menurut saya itu merupakan sebuah tindakan kriminal, karena orang tersebut sudah melakukan pencurian hasil karya orang lain.

    3. yang saya ketahui langkah pertama mengenai metodologi sejarah adalah heuristik yaitu tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan topik dan judul yang menjadi bahan penelitian. mengenai posisi keberadaan artikel ini bila diliahat dari metodologi sejarah mungkin penulis mempunyai sumber-sumber yang relevan tetapi kalu menurut saya bisa saja penulis melakukan copy paste untuk menambah-nambah bahan kajiannya. soalnya, di kedua artikel tersebut kurang jelas mengenai sumber-sumber yang menjadi bahan kajiannya itu.

  10. September 22, 2011 at 9:45 pm

    1. untuk level blog, sekiranya menurut saya masih kurang dapat dipercaya keakuratan dalam pengkajian sejarah.Saya pikir sebagai seorang rakyat Indonesia kedua artikel tersebut terlalu neerlandosentris.

    2.menurut saya, plagiarisme atau dalam bahasa sehari-hari disebut mencontek adalah keterhambatan dalam proses kognitif, di dalam ilmu sosial kita dituntut berpikir. dibenarkan bagi kita bila merujuk suatu interpretasi dari sebuah sumber atau interpretasi yang sudah ada namun, tidak unutk meniru. Untuk diri saya pribadi, saya mencoba untuk menghindari plagiarisme. Sebisa mungkin saya mencari sumber sejarah atau buku teks dari seorang penulis buku yang memang memiliki keahliaan di Sejarah (sejarawan).

    3. Heuristik
    Heuristik adalah tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan topik atau judul penelitian. Heuristik adalah suatu teknik, mencari dan mengumpulkan sumber. Dengan demikian heuristik adalah kegiatan mencari dan mengumpulkan sumber. Dalam hubungan penelitian, peneliti
    mengumpulkan sumber-sumber yang merupakan jejak sejarah atau peristiwa sejarah.

  11. Labibatussolihah
    September 23, 2011 at 12:05 am

    Nama : Labibatussolihah
    NIM :1001953

    Internet mudah diakses oleh siapapun, untuk itu kita sebagai pengguna internet harus kritis terhadap sumber yang dapat dan kita baca di internet. Seperti yang terdapat dalam metodologi sejarah yang pertama yaitu heuristik. Heuristik merupakan langkah awal dalam penelitian sejarah untuk mengumpulkan berbagi sumber data. Seperti yang dilihat dari sumber data yang terdapat pada artikel yang kedua. Ketika sumber yang tercantum dalam artikel yang kedua dibuka ternyata bukan membahas mengenai “yang unik mengenai sejarah Indonesia” melainkan membahas yang lain. Hal tersebut menimbulkan tanda tanya mengenai keaslian sumber tersebut. Sumber ini patut dipertanyakan karena admin yang mempublish mengenai artikel tersebut tidak jujur mengenai darimana dia mengcopy artikel tersebut. Sedangkan untuk para pengguna internet harus kritis terhadap sumber yang didapat, seperti melihat latar belakang seorang penulis tersebut atau keaslian dari sumber yang di dapat.

  12. diyah nur fauziyyah
    September 23, 2011 at 12:12 am

    NAMA : DIYAH NUR FAUZIYYAH
    NIM : 1005897
    JURUSAN : PENDIDIKAN SEJARAH/E

    Setelah membaca kedua artikel tersebut dan memperhatikannya, ternyata tidak ada perbedaan sama sekali dari segi penulisan maupun bahasanya. Isi dari kedua artikel tersebut sama persis dan mungkin hanya dibedakan oleh latar dari tulisan itu. Isi dari dua artikel itu sama-sama membahas tentang proklamasi 17 Agustus.
    Plagiarisme atau secara kasarnya adalah penjiplakan bukan merupakan hal yang baru akhir-akhir ini. apalagi setelah berkembangnya teknologi dan sistem informasi. Copy paste sering dilakukan oleh seseorang yang membutuhkan informasi. Dan yang paling melakukan penjiplakan itu sering dipakai dalam sistem akdemis dalam hal terkecil mereka melakukan penjiplakan. Contohnya dalam mengerjakan tugas mereka menjiplak dan ada juga yang skripsi yang menjiplak.
    Metodologi langkah pertamanya adalah heuristik, heuristik adalah upaya mencari atau menemukan jejak-jejak sejarah. Dari kedua artikel tersebut, si penulis tidak mungkin menulis peristiwa sejarah asal-asalan tanpa disertai sumber. Penulis memakai berbagai sumber . Meskipun cara penulisannya sedikit terkesan menjadi cerita lucu pada penulisan yang pertama, tetapi mungkin ada sumber yang memang menuliskan peristiwa sejarah seperti itu. Mungkin karena alur peristiwa yang cukup menarik dan peristiwa yang mebuatnya berkesan juga yang menyebabkan si penulis memilih peristiwa tersebut.

    • September 23, 2011 at 7:04 am

      Apakah anda tidak malu, kita sedang membahas tentang plagiat, dan anda melakukan hal tersebut? BUKANKAH TULISAN ANDA INI MERUPAKAN COPY PASTE DARI TULISAN TEMAN ANDA YANG BERNAMA SITI NURBAETI???????????
      Saya tidak bisa mentolerir pekerjaan yang seperti ini

  13. siti nurbaeti
    September 23, 2011 at 12:16 am

    Nama : Siti Nurbaeti
    Nim :1001527

    1. Setelah membaca kedua artikel tersebut dan memperhatikannya, ternyata tidk ada perbedaan sama sekali dari segi penulisan maupun bahasanya. Isi dari kedua artikel tersebut sama persis dan mungkin hanya dibedakan oleh latar dari tulisan itu.
    2. Plagiarisme atau secara kasarnya adalah penjiplakan bukan merupakan hal yang baru akhir-akhir ini. apalagi setelah berkembangnya teknologi dan sistem informasi. Copy paste merupakan hal yang paling mudah dilakukan oleh orang-orang yang membutuhkan suatu informasi tertentu tanpa mencantumkan siapa penulis dari sumber tersebut. Biasanya itu banyak terjadi pada dunia akademis. Mulai dari hal terkecil seperti dalam tugas kuliah, mahasiswa dengan mudah mendapatkan suatu sumber dari internet sampai pada masalah yang cukup besar seperti menjiplak hasil karya orang lain. Tidak terkecuali dalam hal penulisan sejarah, banyak tulisan-tulisan yang tersebar yang isinya sama persis antara satu dengan yang lainnya. Menyikapi hal itu, mungkin kita harus bisa lebih menghargai tulisan orang lain, seperti dalam penulisan skripsi, tugas seorang pembimbing merupaka peran yang sangat penting dan harus memperhatikan hasil dari penelitiannya
    3. Metodologi langkah pertama adalah heuristik, heuristik adalah upaya mencari atau menemukan jejak-jejak sejarah. Dari kedua artikel tersebut, si penulis tidak mungkin menulis peristiwa sejarah asal-asalan tanpa disertai sumber. Meskipun cara penulisannya sedikit terkesan menjadi cerita lucu pada penulisan yang pertama, tetapi mungkin ada sumber yang memang menuliskan peristiwa sejarah seperti itu. Mungkin karena alur peristiwa yang cukup menarik juga yang menyebabkan si penulis memilih peristiwa tersebut.

    • September 23, 2011 at 7:02 am

      yang menarik dari tulisan ini adalah PLAGIAT YANG ANDA LAKUKAN BERDUA DENGAN TEMAN ANDA DIYAH NUR FAUZIYYAH.
      Perhatikan jawaban nomor 3, bagaimana mungkin jawaban itu bisa sama, relatif indentik, hanya ada sedikit penambahan kata yang tidak bermakna banyak.
      Kita sedang membahas mengenai plagiat, dan anda membahas hal tersebut pada nomor 2, tetapi lalu anda sendiri melakukan hal yang menjijikan seperti itu?????????????

  14. September 23, 2011 at 12:17 am

    1. Secara keseluruhan, isi dari kedua artikel yang berada pada blog berbeda ini mirip sekali. Tidak terdapat perbedaan sama sekali pada isi. Tapi sumber yang masing-masing dicantumkan oleh penulis berbeda sama sekali.
    2. Budaya plagiarisme bukanlah hal yang baru dalam dunia penulisan. Terlebih saat ini, media yang ada, yang seharusnya memudahkan dalam proses penulisan tersebut, justru menjadi alat yang sangat membantu dalam plagiarisme ini. Setiap orang dengan mudah menghasilkan tulisan yang menurut beberapa orang yang membacanya adalah tulisan yang murni ditulis oleh orang yang mencantumkan namanya pada karya tersebut dalam beberapa menit. Plagiarisme pada berbagai bidang, tidak hanya pada penulisan artikel sejarah, merupakan sebuah tindakan yang tercela. Dan sayangnya, hal ini diikuti atau dilakukan oleh salah satu penulis artikel yang merupakan seorang siswi Sekolah Menengah Atas. Plagiarisme pada penulisan artikel sejarah, seperti yang terjadi pada bidang-bidang yang lain atau kedua artikel tersebut, merupakan hal yang sama sekali tidak baik. Dengan mengakui karya orang lain sebagai karya sendiri, maka secara tidak langsung dia meremehkan atau memandang sebelah mata atas apa yang dilakukan oleh penulis asli yang melakukan proses hingga akhirnya menghasilkan sebuah karya tulisan. Artinya dia mencuri buah pemikiran dari penulis asli yang telah melakukan metodelogi sejarah dari tahap pertama hingga akhir. Dan plagiator tersebut tidak menghargai proses yang dilakukan oleh penulis asli.
    3. Tahap pertama pada metodologi penelitian sejarah merupakan heuristik, yaitu pengumpulan dan kritik sumber. Pada tahap ini peneliti mencari sumber-sumber mengenai hal yang akan dia angkat dalam penelitiannya. Setelah mengumpulakan data-data atau sumber yang dibutuhkan, maka peneliti harus menilai atau mengkritik terhadap sumber yang dia dapatkan. Baik itu kritik internal maupun eksternal. Kritik internal meliputi isi dari sumber atau data tersebut. Sedangkan kritik eksternal meliputi hal lainnya selain dari isi. Contohnya ketika seorang peneliti mendapatkan sumber berupa sebuah catatan, maka dia harus mengkritik dari isi catatan tersebut. Apakah catatan tersebut sesuai dengan apa yang dia cari dan apakah isi dari catatan tersebut sesuai dengan fakta yang ada? Ketika dia harus melakukan kritik eksternal maka dia melakukan kritik atau penilaian pada kertas yang digunakan sebagai catatan tersebut dan latar belakang dari penulis catatan tersebut.
    Mungkin pemilik blog yang mencantumkan artikel tersebut pada blog mereka masing-masing merasa telah mendapatkan apa yang mereka cari, yaitu tentang keunikan-keunikan seputar kemerdekaan. Tapi pada tahap kritik sejarah, mereka mengabaikan hal tersebut. Terbukti pada sumber yang mereka cantumkan itu sangat berbeda. Tapi isi dari artikel tersebut persis sama. Dan kedua artikel itu dipertanyakan dalam hal keabsahannya.

  15. September 23, 2011 at 3:07 am

    Kedua artikel tersebut memiliki kesamaan persis. Seperti dalam lingkungan belajar seorang mahasiswa, contohnya tugas seorang mahasiswa yang di copy-paste temannya atau seorang mahasiswa yang mengcopy-paste tugas lewat tulisan yang ada di internet. Menurut saya tentu ada salah satu diantara kedua penulis tersebut yang mengcopy-paste atau menjadi plagiat dalam hal kesamaan dalam artikel ini. Karena sangat akan tidak mungkin jika ada dua orang yang berada dalam tempat yang berbeda dan rentang waktu yang terlampau lama yaitu sekitar 2 tahun lamanya akan mempunyai tulisan yang sama persis, walaupun memiliki ide yang sama akan tetapi setidaknya cara menuangkan ide dalam sebuah tulisan itu pasti akan dirasa berbeda. Begitulah menurut pendapat saya.
    Persoalan plagiarisme memang bukan hal yang jarang kita temui, bahkan setiap saat setiap detik kita pasti akan bersinggungan dengan hal tersebut. Namun dalam menyikapi hal ini tentu saja dibutuhkan kesadaran dari diri kita sendiri terutama dalam memaknai dan memahami tentang plagiarisme tersebut. Terutama dalam karya (artikel) sejarah, akan sangat terlihat jelas tentang praktek plagiarisme tersebut karena berhubungan dengan sudut pandang seorang penulis terhadap sebuah peristiwa, tentu saja dalam prakteknya akan terlihat berbeda, tidak akan yang menyamai walaupun berasal dari suatu ide yang sama.
    Metodologi sejarah langkah pertamanya yaitu heuristik, mencari dan mengumpulkan sumber sejarah. Didapatkannya kedua artikel yang memiliki kesamaan mulai dari ide, cerita, bahkan 100% isinya pun persis sama tidak ada hal yang dapat dijadikan kata kunci untuk melihat perbedaan kedua artikel tersebut. Namun jika ditelusuri dan diteliti lebih dalam lagi akan terlihat adanya perbedaan dengan terdapatnya tanggal dalam setiap artikel yang memungkinkan kita untuk mengetahui kapan tulisan tersebut mulai diposting di blog tersebut. Dengan cara tersebut kita dapat mengetahui siapa yang terlebih dahulu menulis dan mempostingnya di blog, sehingga akan terlihat siapa yang menjadi plagiatnya.

  16. September 23, 2011 at 6:09 am

    Nama : Siska Nurmalasari
    NIM : 1002008

    1. Dari kedua artikel diatas setelah saya cermati, memang identik dari mulai cara penulisannya dan tidak akan bisa diketahui langsung, diantara penulis artikel ini yang bisa di sebut sebagai plagiator. Dan dalam kasus ini bisa disebut plagiarisme, karena dari mulai cara penulisannya pun sangat mirip. Dan penulis artikel ini mungkin entah mengambil dari sumber mana tapi tanpa memberikan anotasi yang jelas tentang sumbernya. Jadi memang sulit membedakan penulis yang mana yang menjadi plagiator. Kasus plagiarisme ini bukan hanya terjadi sekali, mulai dari plagiarisme karya ilmiah, tugas kuliah,skripsi dan yang lainnya. Dan memang seharusnya kasus plagiarisme ini tidak terjadi di kalangan akademis, mungkin juga mahasiswa melakukan plagiarisme ada alasannya. Memang bagi kalangan akademis membuat karya tulis atau sejenisnya adalah tuntutan untuk mendapat degree yang diinginkan. Dan bisa saja orang yang melakukan plagiarisme ini mempunyai latar belakang alasan kenapa kebanyakan orang melakukan plagiarisme,khususnya dalam bidang akademik. Mungkin latar belakang terjadinya kasus ini dikarenakan oleh keteledoran para pembimbing. Seharusnya para pembinmbing ini selain membimbing juga mengawasi perkembangan anak didiknya. Tetapi karena pembimbing begitu sangat percaya kepada anak didiknya dan akhirnya anak didiknya malas dan mulailah dia menjadi plagiator.

    2. Menurut saya, plagiarisme dalam penulisan karya tulis (artikel) sejarah, harus di tangani secara serius, karena sejarah itu peristiwa dan fakta di masa lalu yang tidak bisa di rubah dilihat dari bukti-bukti sejarah itu sendiri. Dan tidak seharusnya plagiarism dalam penulisan karya tulis sejarah terjadi, karena mungkin aka nada banyak kejanggalan dan akan dipertanyakan sumber-sumber yang sangat jelas. Seperti banyak contoh : hanya di Amerika Serikat ada istilah “fair use” (penggunaan yang wajar) adalah sebuah aspek hukum hak cipta Amerika Serikat yang mengizinkan penggunaan bahan-bahan yang telah dilindungi hak cipta dalam karya penulis lain di bawah syarat-syarat tertentu. Penggunaan wajar membuat karya yang terlindung hak cipta tersedia kepada publik sebagai bahan dasar tanpa perlu meminta izin, asalkan penggunaan gratis tersebut tidak melanggar hukum hak cipta, yang didefinisikan Konstitusi AS sebagai penyebar luasan “kemajuan Sains dan Seni-seni yang berguna” (kutipan asli dalam bahasa Inggris: “the Progress of Science and useful Arts”). http://id.wikipedia.org/wiki/Penggunaan_wajar.

    3. Dalam metodologi sejarah langkah pertama yaitu heuristik, dan dalam artikel ini penulis termasuk plagiarisme karena menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain dan mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya adalah termasuk golongan plagiarisme.

  17. September 23, 2011 at 7:35 am

    Nama :Sansan Moch Ihsan
    Nim :1005831
    Jurusan :Pend. Sejarah

    Setelah saya membaca artikel tersebut, saya mendapat suatu pengetahuan yang baru dan mempunyai beberapa pandangan terhadap kasus plagiarisme.
    1. Setelah membaca artikel tersebut, sungguh hal yang mencengangkan ternyata plagiarisme tidak hanya di lakukan oleh mahasiswa atau anak didik saja ternyata kasus seperti ini juga terjadi dalam hal penulisan karya ilmiah sejarah, yang lebih parahnya titik koma sampai dengan spasi sangat mirip dengan aslinya tanpa mencantumkan reperensi. Memang benar kasus plagiarisme memang tidak pantas untuk dilakukan dalam segala hal, apalagi dalam dunia pendidikan. Sungguh kasus yang mengejutkan jikalau ada dosen yang melakukan plagiarisme dalam menghasilkan suatu karya ilmiah. Karena sosok seorang dosen adalah sosok pencetak generasi penerus, jika yang mencetak nya melakukan hal yang memalukan apalagi hasil cetakannya pasti tidak akan jauh dari apa yang di lakukan oleh gurunya, sehingga generasi penerus yang akan menjadi seorang guru yang di teladani tidak akan memliki kualitas yang baik. Maka dari itu plagiarisme adalah kasus yang dapat menumpulkan potensi-potensi fositif dalam diri kita karena dengan plagiarism, otak kita secara tidak langsung di rancang untuk tidak berfikir sama sekali.
    2. Kasus Plagiarisme dalam suatu karya ilmiah sejarah akan merugikan orang yang membuat karya tulis ilmiah tersebut. Orang yang sudah melakukan plagiarisme dalam penulisan karya ilmiah bisa di katakan sebagai orang yang tidak bisa menghargai orang lain, dimana orang yang melaukan plagiarisme terhadap suatu karya ilmiah sejarah tidak menghargai sedikit pun hasil pemikiran orang yang membuatnya. Selain itu orang yang melakukan plagiarisme secara tidak langsung menujukan pada khalayak umum bahwa dirinya memang tidak berkualitas sedikit pun. Karena perbuatan plagiarisme adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dan tidak memiliki suatu inisiatif yang baru.
    3. Metodologi sejarah langkah pertama ( heuristik ) adalah tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan topik atau judul penelitian. Sumber-sumber tersebut adalah apa-apa yang di tinggalkan aktifitas manusia di masa lampau yang menunjukan bahwa benar-benar telah terjadi peristiwa yang di maksud. Bila dilihat dari metodologi sejarah, posisi kedua artikel ini bisa di katan sebagai tahap akhir yakni tahap historiagrafi. Yang mana kedua artikel ini bisa disebut sebagai kesimpulan yang di dapat dari sumber-sumber yang ada.

  18. September 23, 2011 at 7:44 am

    Nama : Sansan Moch Ihsan
    Nim : 1005831
    Jurusan : Pend. Sejarah

    Setelah saya membaca artikel tersebut, saya mendapat suatu pengetahuan yang baru dan mempunyai beberapa pandangan terhadap kasus plagiarisme.
    1. Setelah membaca artikel tersebut, sungguh hal yang mencengangkan ternyata plagiarisme tidak hanya di lakukan oleh mahasiswa atau anak didik saja ternyata kasus seperti ini juga terjadi dalam hal penulisan karya ilmiah sejarah, yang lebih parahnya titik koma sampai dengan spasi sangat mirip dengan aslinya tanpa mencantumkan reperensi. Memang benar kasus plagiarisme memang tidak pantas untuk dilakukan dalam segala hal, apalagi dalam dunia pendidikan. Sungguh kasus yang mengejutkan jikalau ada dosen yang melakukan plagiarisme dalam menghasilkan suatu karya ilmiah. Karena sosok seorang dosen adalah sosok pencetak generasi penerus, jika yang mencetak nya melakukan hal yang memalukan apalagi hasil cetakannya pasti tidak akan jauh dari apa yang di lakukan oleh gurunya, sehingga generasi penerus yang akan menjadi seorang guru yang di teladani tidak akan memliki kualitas yang baik. Maka dari itu plagiarisme adalah kasus yang dapat menumpulkan potensi-potensi fositif dalam diri kita karena dengan plagiarism, otak kita secara tidak langsung di rancang untuk tidak berfikir sama sekali.
    2. Kasus Plagiarisme dalam suatu karya ilmiah sejarah akan merugikan orang yang membuat karya tulis ilmiah tersebut. Orang yang sudah melakukan plagiarisme dalam penulisan karya ilmiah bisa di katakan sebagai orang yang tidak bisa menghargai orang lain, dimana orang yang melaukan plagiarisme terhadap suatu karya ilmiah sejarah tidak menghargai sedikit pun hasil pemikiran orang yang membuatnya. Selain itu orang yang melakukan plagiarisme secara tidak langsung menujukan pada khalayak umum bahwa dirinya memang tidak berkualitas sedikit pun. Karena perbuatan plagiarisme adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dan tidak memiliki suatu inisiatif yang baru.
    3. Metodologi sejarah langkah pertama ( heuristik ) adalah tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan topik atau judul penelitian. Sumber-sumber tersebut adalah apa-apa yang di tinggalkan aktifitas manusia di masa lampau yang menunjukan bahwa benar-benar telah terjadi peristiwa yang di maksud. Bila dilihat dari metodologi sejarah, posisi kedua artikel ini bisa di katan sebagai tahap akhir yakni tahap historiagrafi. Yang mana kedua artikel ini bisa disebut sebagai kesimpulan yang di dapat dari sumber-sumber yang ada.

  19. September 23, 2011 at 9:52 am

    Nama : Heni Winarto
    Nim :10008991
    Jurusan : Pendidikan Sejarah
    1. Setelah saya membaca kedua artikel tersebut, yang saya pahami adalah kesamaan pada seluruh isi kedua artikel tersebut. Tanda baca, diksi dan setiap kata yang ada didalamnya mengandung unsur kesamaan mutlak. Jika kita analisis, kedua artikel ini berasal dari satu sumber yang sama, kemudian salah satu dan lain pihak mengcopynya untuk penggunaan yang salah. Seperti kita ketahui bersama dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi, tentu saja kedua artikel ini termasuk dalam Plagiarisme.
    2. Bagi mahasiswa yang masih belajar mencari sumber sejarah sebagai bahan informasi, saya mungkin masih sering langsung percaya terhadap artikel yang saya temukan di internet, apalagi jika artikel tersebut relevan dengan informasi dan bahan kuliah yang saya butuhkan. Tetapi setelah belajar pengantar ilmu sejarah dan membaca mengenai metodologi sejarah, saya mengerti bahwa keabsahan suatu karya itu perlu dianalisis berdasarkan tahapannya. Menyikapi Plagiarisme dalam artikel sejarah kita dapat menggunakan tahapan dalam metodologi sejarah.
    3. Yang saya pahami dari metodologi sejarah tahap pertama (Heuristik) ialah tahapan dimana kita mencari dan mengumpulkan sumber baik yang relevan dengan apa yang kita butuhkan dengan tetap memilah milih sumber berdasarkan keabsahannya.
    Keberadaan kedua artikel ini dilihat dari metodologi sejarah tentu telah melanggar beberapa tahapan metodologi sejarah. Dari tahap pertama kita bisa tahu bahwa sumber (artikel) tersebut ketika kita temukan di internet, ada dua yang sama persis hanya berbeda penulisnya. Dari hal tersebut kita tahu bahwa sumber tersebut masih dipertanyakan keabsahannya. Kemudian pada tahap kedua yakni kritik sumber dimana setelah kita memperoleh sumber tersebut, kita mengkritik keabsahan artikel tersebut. Ketika kita menemukan dua artikel yang sama, kita dibuat bingung mengenai mana penulis yang benar-benar menulis artikel tersebut. Untuk menanggulanginya, kita bisa menganalisis latar belakang penulis dengan apa yang beliau tulis, apakah latar belakangnya relevan dengan apa yang beliau tulis atau tidak. Tahap ketiga yaitu interpretasi, setelah kita tahu bagaimana latar belakang penulis artikel tersebut, kita bisa menganalisis bagaimana penulis memandang suatu peristiwa yang ia tulis tentunya dengan menghindarkan kesubyektifan penulis. Pada kedua artikel ini, bagaimana kita bisa melakukan interpretrasi sementara penulisnya saja tidak jelas siapa. Kemudian tahap yang terakhir adalah Historiografi dimana sumber-sumber yang telah di pilah-pilih berdasarkan tahapannya, di kemas dengan tulisan yang baik dan benar. Baik secara tahapan penulisan, benar secara keabsahan dan keotentikan sumber-sumber yang dipergunakan. Dan untuk kedua artikel kembar ini, kita bisa temukan cara penulisan antar paragrap yang tidak koheren dan masih diragukan kebenarannya.

  20. September 23, 2011 at 10:01 am

    Nama : Heni Winarto
    Nim :1000899
    Jurusan : Pendidikan Sejarah
    1. Setelah saya membaca kedua artikel tersebut, yang saya pahami adalah kesamaan pada seluruh isi kedua artikel tersebut. Tanda baca, diksi dan setiap kata yang ada didalamnya mengandung unsur kesamaan mutlak. Jika kita analisis, kedua artikel ini berasal dari satu sumber yang sama, kemudian salah satu dan lain pihak mengcopynya untuk penggunaan yang salah. Seperti kita ketahui bersama dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi, tentu saja kedua artikel ini termasuk dalam Plagiarisme.
    2. Bagi mahasiswa yang masih belajar mencari sumber sejarah sebagai bahan informasi, saya mungkin masih sering langsung percaya terhadap artikel yang saya temukan di internet, apalagi jika artikel tersebut relevan dengan informasi dan bahan kuliah yang saya butuhkan. Tetapi setelah belajar pengantar ilmu sejarah dan membaca mengenai metodologi sejarah, saya mengerti bahwa keabsahan suatu karya itu perlu dianalisis berdasarkan tahapannya. Menyikapi Plagiarisme dalam artikel sejarah kita dapat menggunakan tahapan dalam metodologi sejarah.
    3. Yang saya pahami dari metodologi sejarah tahap pertama (Heuristik) ialah tahapan dimana kita mencari dan mengumpulkan sumber baik yang relevan dengan apa yang kita butuhkan dengan tetap memilah milih sumber berdasarkan keabsahannya.
    Keberadaan kedua artikel ini dilihat dari metodologi sejarah tentu telah melanggar beberapa tahapan metodologi sejarah. Dari tahap pertama kita bisa tahu bahwa sumber (artikel) tersebut ketika kita temukan di internet, ada dua yang sama persis hanya berbeda penulisnya. Dari hal tersebut kita tahu bahwa sumber tersebut masih dipertanyakan keabsahannya. Kemudian pada tahap kedua yakni kritik sumber dimana setelah kita memperoleh sumber tersebut, kita mengkritik keabsahan artikel tersebut. Ketika kita menemukan dua artikel yang sama, kita dibuat bingung mengenai mana penulis yang benar-benar menulis artikel tersebut. Untuk menanggulanginya, kita bisa menganalisis latar belakang penulis dengan apa yang beliau tulis, apakah latar belakangnya relevan dengan apa yang beliau tulis atau tidak. Tahap ketiga yaitu interpretasi, setelah kita tahu bagaimana latar belakang penulis artikel tersebut, kita bisa menganalisis bagaimana penulis memandang suatu peristiwa yang ia tulis tentunya dengan menghindarkan kesubyektifan penulis. Pada kedua artikel ini, bagaimana kita bisa melakukan interpretrasi sementara penulisnya saja tidak jelas siapa. Kemudian tahap yang terakhir adalah Historiografi dimana sumber-sumber yang telah di pilah-pilih berdasarkan tahapannya, di kemas dengan tulisan yang baik dan benar. Baik secara tahapan penulisan, benar secara keabsahan dan keotentikan sumber-sumber yang dipergunakan. Dan untuk kedua artikel kembar ini, kita bisa temukan cara penulisan antar paragrap yang tidak koheren dan masih diragukan kebenarannya.

    Ibu maaf, heni ngirim tugasnya dua kali. Yang pertama NIM nya lebih satu angka. Maaf sebelumnya. InsyaAllah yang ini benar.

  21. September 24, 2011 at 3:01 am

    Nama :Budi Mulyana
    NIM : 1006560

    1. . Setelah anda cermati kedua artikel tersebut, apa komentar anda? Komentar saya terhadap kedua artikel tersebut merupakan suatu tindakan yang melanggar hukum karena mencuri kekayaan intelektual orang lain,saya amati kedua artikel itu penulisannya 99.99% sama. Perbuatan plagiat akan membuat seseorang menjadi malas karena beranggapan bahwa membuat atikel atau karya ilmiah tinggal copy-paste saja.
    2. bagaimana anda menyikapi persoalan plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah? Menurut saya orang yang melakukan plagiarisme dalam karya(artikel) sejarah akan lebih mudah ketahuan karena sudut pandang seseorang dalam penulisan sejarah tidak akan sama kalimatnya antara satu sama lainnya walaupun sumbernya sama.
    3. Apa yang anda pahami mengenai metodologi sejarah langkah pertama? dan bagaimana posisi keberadaan kedua artikel ini bila dilihat dari metodologi sejarah? Langkah pertama dalam Metodologi sejarah adalah heuristic atau pengumpulan sumber-sumber sejarah . kedua artikel tersebut belum bisa dijadikan suatu sumber karena tidak ada bukti darimana sumber itu didapatkan.

  22. September 24, 2011 at 5:18 am

    Nama : Alin Novandini
    NIM : 1000326

    1. Setelah dicermati, kedua artikel tersebut mempunyai isi yang sama persis, dilihat dari huruf maupun tanda baca yang digunakan. Namun jika dilihat dari tanggal posting kedua artikel tersebut mempunyai rentan waktu yang cukup jauh, yaitu hampir sekitar dua tahun. Hal tersebut menjelaskan adanya plagiat yang dilakukan oleh salah seorang pemilik blog.
    2. Plagiarisme dalam suatu penulisan karya tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang manapun karena melanggar hak cipta. Tetapi pada perkembangannya saat ini, memang sulit dikontrol karena disebabkan oleh kemajuan teknologi dan semakin mudahnya mengakses informasi. Oleh karena itu, untuk mencegah, mengurangi atau bahkan kalau bisa menghapuskan plagiarisme diperlukan kesadaran serta peran dari pembimbing dengan mencantumkan sumber yang jelas apabila mengutip karya orang lain.
    3. Langkah pertama dalam metodologi penulisan sejarah yaitu heuristik. Heuristik merupakan tahap untuk mengumpulkan sumber-sumber yang relevan untuk mendukung suatu penulisan sejarah. Jika dilihat dari metodologi sejarah, kedua artikel ini kurang baik karena tidak mencantumkan sumber-sumber yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Kita tidak tahu kebenaran dari konten artikel tersebut, apakah itu merupakan fakta sejarah atau hanya sekedar hoax.

  23. September 24, 2011 at 6:18 am

    Nama : Novia Sandi Apriyani
    NIM : 1001838
    Jurusan : Pendidikan Sejarah
    Komentar saya pada kedua artikel tersebut, isi artikelnya benar-benar sama persis, tanda bacanya sama, kata-katanya sama. Yang membedakan hanya yang membuat alamat blog dan terdapatnya gambar foto yang mendukung artikel tersebut. Tidak diketahui pasti siapa yang memiliki blog tersebut. Tetapi ada satu blog yang terdapat identitasnya yaitu http://tifandhaluhzan.wordpress.com/2008/07/12/artikel-unik-sejarah-republik-indonesia/ adalah blog yang dibuat oleh siswa SMA, yang berlatar belakang sebagai pelajar. Serta pada artikel tersebut tidak ditulis siapa yang membuat artikel tersebut.
    Menulis artikel di blog tersebut, selain untuk mengisi blognya dengan artikel-artikel tersebut,yang akan menambah pengetahuan, alangkah baiknya isi artikel tersebut dicantumkan penulis artikel dan dikutip darimana sumber dan penulis artikel yang jelas dan lengkap.
    Cara menyikapi plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah, ketika setelah menemukan dan mendapatkan artikel yang diperlukan dan sesuai yang dicari. Misalnya artikel tersebut terdapat pada suatu blog. Lihat terlebih dahulu penulisnya, siapa yang menulis artikel, bagaimana latar belakang penulisnya, melihat susunan tampilan blognya (pada umumnya di blog terdapat identitas pemilik blog serta latar belakangnya), dan isi materinya. Serta mencari data tidak mutlak melalui media internet, artikel yang didapat dibandingkan dengan data dari buku-buku sumber yang valid. Jika data dari sumber buku dan sumber internet sinkron, data tersebut dapat digunakan.
    Metodologi sejarah langkah pertama ialah heuristik, yaitu pengumpulan data-data yang valid dengan mengkritik sumber tersebut, dan akan menjadi pembagian sumber yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Dimana sumber primer adalah sumber yang utama sebagai panduan, sedangkan sumber sekunder adalah sumber yang mendukung. Posisi kedua artikel tersebut bila dilihat dari metodologi sejarah adalah heuristik, karena tidak adanya sumber yang mendukung, masih bisa dijadikan sebagai data yang harus dikritik ulang .
    Kesimpulannya artikel ini bisa digunakan, hanya sebagai pengetahuan. Artikel ini dibandingkan dengan menggunakan buku sumber yang lebih relevan dan otentik. Jika data dari sumber buku dan sumber internet sinkron, data tersebut dapat digunakan.

  24. September 24, 2011 at 6:58 am

    Alin Novandini
    1000326
    Pendidikan Sejarah

    1. Setelah mencermati kedua artikel tersebut, menurut pandangan saya kedua artikel tersebut mempunyai isi yang sama baik dilihat dari susunan kata, tanda baca maupun isi setiap cerita sejarah tersebut. Disamping hal tersebut, hal yang menarik terlihat pada perbadaan waktu pemilik blog memposting artikel tersebut. Ada jarak yang jauh antara pemasukan kedua artikel tersebut yaitu tahun 2008 dan tahun 2010, sekitar dua tahun. Hal tersebut mempunyai arti atau menjelaskan bahwa adanya suatu tindakan plagiarisme yang dilakukan oleh salah seorang pemilik blog.
    2. Plagiarisme merupakan suatu tindakan meniru atau memindahkan konten suatu tulisan atau karya dalam hal ini sering disebut copy paste. Tindakan plagiarisme ini tentu saja merupakan tindakan yang tidak menghargai karya orang lain. Kemajuan teknologi dan semakin mudahnya akses informasi yang dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja juga sangat berpengaruh terhadap plagiarisme ini.
    3. Langkah heuristik merupakan langkah pertama dalam metodologi penulisan sejarah. Heuristik yaitu tahap pertama untuk mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dan dapat dijadikan sebagai referensi yang dapat dipertanggungjawabkan dalam suatu penulisan sejarah. Setelah saya membaca dan mengamati kedua artikel tersebut, dapat diketahui bahwa artikel itu kurang baik karena tidak menggunakan tahapan metodologi penulisan sejarah yang benar sehingga dapat dikatakan kedua artikel ini bukan merupakan suatu karya penulisan sejarah yang baik dan tidak mencantumkan sumber yang jelas dan kita sebagai pembaca tidak mengetahui keaslian konten artikel tersebut, apakah artikel tersebut merupakan suatu fakta sejarah atau hanya berupa hoax.

  25. September 24, 2011 at 7:12 am

    Arief Sepya Maulana (1001279)
    Pendidikan Sejarah

    1. Setelah saya membaca dan mencermati kedua artikel tersebut diatas, saya menyimpulkan dan berpendapat bahwa kedua artikel tersebut merupakan artikel yang sama persis serta merupakan bentuk copy paste jika dilihat dari seluruh kontennya. Hal ini jelas menunjukan adanya pelanggaran hak cipta dari salah seorang pemilik blog atau dalam hal ini disebut plagiarisme. Kedua artikel ini bisa jadi merupakan hasil tulisan salah satu pemilik blog tersebut ataupun tulisan orang lain yang tidak diketahui karena tidak mencantumkan sumber utamanya.
    2. Plagiarisme dalam penulisan suatu karya tulis atau artikel saat ini sudah menjadi hal yang sering dilakukan oleh para kaum akademis di lingkungan pendidikan tinggi. Perkembangan teknologi dan semakin canggihnya sistem informasi menjadi salah satu faktor pendorong plagiarisme, tetapi di sisi lain juga dapat menjadi suatu cara untuk mencegah plagiarisme itu sendiri. Tentu saja plagiarisme ini merupakan suatu tindakan yang melanggar hukum dan hak cipta seseorang, walaupun terlihat seperti hal yang biasa karena dengan mudahnya seseorang bisa melakukan plagiat, namun hal ini tetaplah tidak dapat dibenarkan dan perlu dilakukan tindakan seperti misalnya sistem penilaian dan penyuntingan karya ilmiah atau artikel diperketat dan setiap plagiarisme diberi sanksi
    3. Langkah pertama dalam metodologi penulisan sejarah adalah heuristik, yaitu langkah pengumpulan sumber-sumber sejarah yang relevan serta berdasarkan fakta untuk kemudian dikembangkan lagi dengan menggunakan metodologi penulisan sejarah lainnya. Dalam kasus plagiarisme kedua artikel ini, jika dilihat dari metodologi penulisan sejarah jelas tidak bisa dikategorikan sebagai karya penulisan sejarah karena tidak memiliki relevansi dan keterangan sumber sejarah yang jelas serta tidak dapat dipertanggungjawabkan. Jadi kedua artikel ini bisa dikatakan sebagai suatu tindakan plagiarisme.

  26. September 24, 2011 at 8:21 am

    Jika melihat kedua artikel tersebut, baik dalam penulisan maupun isinya terdapat banyak kesamaan dan bisa dibilang kedua artikel tersebut sama persis. Menurut saya, perihal kasus copy-paste sebuah karya ilmiah (artikel) terdapat beberapa hal yang menyebabkannya, seperti; a) kurangnya pengetahuan tentang bahan tulisan, b) kurangnya percaya diri terhadap hasil karyanya, c) adanya sifat malas . bisa dilihat melalui alamat situs ini http://aldyputra.net/2011/07/beberapa-penyebab-copy-paste/. Nah, menurut saya ketiga penyebab itulah yang menjadi awal terjadinya plagiarisme atau copy-paste. jikalau mengaitkan dengan kedua artikel diatas sangatlah mungkin jika ketiga penyebab itulah yang menjadi titik utama seseorang melakukan plagiarisme atau copy-paste. sebagai contoh, banyak sekali kasus plagiarisme atau copy-paste dikalangan mahasiswa. karena diberi tugas sangat banyak oleh dosen dan dengan diberi waktu sangat sedikit sehingga mengakibatkan timbulnya rasa malas pada mahasiswa, kemudian ujung-ujungnya melakukan copy-paste tugas dari orang lain atau temannya sendiri. Nah seperti itulah pendapat atau komentar saya mengenai kedua artikel tersebut.
    Mengenai bagaimana menyikapi persoalan plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah. Secara jujur memang kita tidak bisa menghindari dengan yang namanya plagiarisme. setiap hari kita selalu akan mendengar bahkan mengetahui banyaknya yang melakukan plagiarisme. Akan tetapi, dalam hal menyikapi persoalan plagiarisme sangatlah dibutuhkan kesadaran dari diri kita sendiri. Kita harus mengetahui arti dan bahaya dari plagiarisme itu sendiri sehingga jika kita mengetahui arti dari plagiarisme dan juga mengetahui bahayanya melakukan plagiarisme secara tidak langsung akan membuat diri kita menghindari prilaku-prilaku yang berbau plagiarisme. Jika menyikapi persoalan plagiarisme dalam artikel sejarah, sudut pandang penulis sangatlah berpengaruh dalam pembuatan sebuah karya ilmiah, sehingga apabila terdapat sebuah praktek plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah maka akan sangat terlihat jelas jika terdapat sebuah praktek plagiarisme, karena seperti yang tadi saya katakan, sudut pandang penulis terhadap peristiwa yang dikaji akan sangatlah berbeda dengan orang lain walaupun peristiwa yang dikajinya itu sama.
    Metodologi tahap pertama yaitu heuristic. pengumpulan dan pencarian bahan-bahan sumber sejarah yang akan dikaji yang memiliki fakta-fakta sejarah yang akurat dan sumber yang relevan. Namun, jika melihat kedua artikel tersebut sangatlah janggal apabila diposisikan keberadaannya sebagai sumber sejarah. Karena kedua artikel tersebut sudah dikatakan sebagai sumber plagiarisme sehingga tidak dapat dikatakan sebagai sumber yang relevan lagi.

  27. September 24, 2011 at 9:48 am

    Nama : Eka Puspita Sari
    NIM : 1000903
    Jurusan : Pendidikan Sejarah
    Setelah saya membaca kedua artikel tersebut.
    1. Menurut pendapat saya kedua artikel tersebut hanyalah asumsi dari penulis saja karena disitu tidak menyebutkan fakta-fakta darimana penulis mengutip sumber tersebut, dan kebenarannya saya rasa tidak bisa langsung diterima begitu saja. Bisa saja yang membuat artikel tersebut orang yang suka iseng di internet. Jadi kita sebagai pembaca haruslah lebih mengkritisi artikel tersebut karena kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Apalagi kita sebagai seorang calon pendidik sejarah yang sudah tahu bagaimana keabsahan sumber itu bisa dijadikan sejarah.
    2. Dengan banyak beredarnya plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah, sebenarnya itu harus lebih diperhatikan lagi karena masa iya Indonesia disebut revolusi dari kamar tidur?? Sangat tidak relefan. Bagaimana kalau yang baca artikel itu anak SD yang belum bisa menyaring informasi yang didapat. Pasti anggapan terhadap indonesia itu buruk sekali. Maka dari itu sebaiknya jika ingin membuat tulisan-tulisan sejarah jangan hanya dari sumber internet saja tetapi akan lebih baik jika penulisan sejarah itu kita kutip dari buku-buku ataupun sumber-sumber yang memang relefan untuk dijadikan bahan penulisan. Dan penulisan-penulisan artikel seperti itu sebaiknya jangan dijadikan sumber/ data untuk penulisan sejarah.
    3. Yang saya ketahui selama menjadi mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah, langkah pertama dalam metodologi sejarah itu adalah pengumpulan data sejarah(heuristik).
    Data-data yang bisa dijadikan sumber sejarah diantaranyai sumber primer. Sumber primer dalam penelitian sejarah adalah sumber yang di- sampaikan oleh saksi mata. Hal ini dalam bentuk dokumen, misalnya arsip laporan pemerintah atau. Sedangkan dalam sumber lisan yang dianggap primer ialah wawancara langsung dengan pelaku peristiwa atau saksi mata.
    Dan menurut saya kedua artikel tersebut tidak termasuk kedalam syarat-syarat dalam metodologi sejarah karena kedua artikel tersebut tidak disertai dengan fakta-faktanya.

  28. September 24, 2011 at 11:45 am

    NAMA: SHINTYA DWI WAHYUNINGTIYAS
    NIM: 0901583

    1. Sekilas melihat kedua artikel dengan judul dan alamat situs yang berbeda sudah terlihat sama, apalagi ketika membaca secara keseluruhan kedua arikel tersebut tidak ada satu kata pun yang berbeda. Bahkan tidak tahu mana yang meng-copy paste terlebih dahulu. Kedua artikel itu memperlihatkan pada kita bahwa begitu mudahnya mencari informasi dari internet. Disadari atau tidak, plagiarisme ini mulai menjangkit kalangan akademik khususnya mahasiswa yang menggunakan internet dalam mencari sumber baik untuk tugas kuliah maupun aktifitas yang lainnya. Ironis melihat perkembangan teknologi informasi yang semakin maju timbul dampak negatif ketika mahasiswa sebagai pengguna internet malah menjadi plagiat dari sumber-sumber yang kebanyakan merupakan hasil plagiarisme itu sendiri.
    Kita tidak biasa menyalahkan kemajuan teknologi informasi yang menunjukan kearah plagiarisme karena apabila internet digunakan dengan bijak dalam hal positif maka tidak akan terjadi hal-hal negatif tersebut.
    Lalu apa artinya ketika kita menyuarakan anti-plagiarisme sedangkan yang terjadi kita sendiri yang melakukan plagiat? padahal bila kita membuat artikel yang bukan copy paste dari alamat situs lain akan memperkaya sumber dari internet.

    2. Internet sebagai media, memuat banyak artikel diantaranya artikel sejarah. Hal tersebut bisa dianggap baik karena kita bisa mendapatkan referensi selain buku yang bisa memperluas wawasan. Tetapi apabila sumber yang tersedia hanya copy paste dari artikel lain yang relatif sama tidak begitu menguntungkan. Belum lagi artikel yang sudah didapat memerlukan kritik baik ekstern maupun intern, sedangkan mengkritik sumber bila tidak diimbangi dengan pengetahuan dan sumber yang cukup terhadap topik artikel yang kita buat akan sulit juga.
    Bila kita hanya menjadi pengguna dari kemajuan teknologi informasi tanpa memberikan kontribusi lain seperti memuat artikel-artikel sejarah di internet yang merupakan karya kita sendiri bukan hasil dari plagiat, maka plagiarisme bisa dikurangi minimal dimulai dari diri kita sendiri.

    3. Dalam metodologi sejarah, Heuristik adalah kegiatan mencari dan mengumpulkan sumber sebagai tahap pertama yang kemudian dilanjutkan pada tahap kedua yaitu Kritik sumber dan seterusnya. Adapun sumber sejarah sendiri terbagi kedalam sumber benda, sumber tulisan dan sumber lisan. Sumber sejarah baik benda maupun tulisan ada yang merupakan sumber pertama atau kedua yang relevan dengan topik. Sumber tersebut bisa didapat di perpustakaan, museum maupun arsip. Selain itu ada juga sumber sejarah yang berupa tulisan-tulisan baik jurnal maupun artikel yang bermanfaat bagi penelitian dan bisa didapat di media internet. Setelah mendapatkan sumber maka kita menganalisis dan mengkritik sumber tersebut untuk mendapatkan sumber yang valid dan otentik sebagai fakta sejarah. Keberadaan kedua artikel ini setelah dilakukan kritik ekstern maupun intern tidak bisa dianggap valid karena tidak ada sumber lain yang mendukung pernyataan dalam artikel, bahkan ada artikel yang sama sehingga bisa dikatakan sebagai plagiat. Sedangkan dalam penulisan kaya sejarah yang ilmiah kegiatan plagiat itu tidak dibenarkan.

  29. September 24, 2011 at 11:48 am

    NAMA: SHINTYA DWI WAHYUNINGTIYAS
    NIM: 0901583

    1. Sekilas melihat kedua artikel dengan judul dan alamat situs yang berbeda sudah terlihat sama, apalagi ketika membaca secara keseluruhan kedua arikel tersebut tidak ada satu kata pun yang berbeda. Bahkan tidak tahu mana yang meng-copy paste terlebih dahulu. Kedua artikel itu memperlihatkan pada kita bahwa begitu mudahnya mencari informasi dari internet. Disadari atau tidak, plagiarisme ini mulai menjangkit kalangan akademik khususnya mahasiswa yang menggunakan internet dalam mencari sumber baik untuk tugas kuliah maupun aktifitas yang lainnya. Ironis melihat perkembangan teknologi informasi yang semakin maju timbul dampak negatif ketika mahasiswa sebagai pengguna internet malah menjadi plagiat dari sumber-sumber yang kebanyakan merupakan hasil plagiarisme itu sendiri.
    Kita tidak biasa menyalahkan kemajuan teknologi informasi yang menunjukan kearah plagiarisme karena apabila internet digunakan dengan bijak dalam hal positif maka tidak akan terjadi hal-hal negatif tersebut.
    Lalu apa artinya ketika kita menyuarakan anti-plagiarisme sedangkan yang terjadi kita sendiri yang melakukan plagiat? padahal bila kita membuat artikel yang bukan copy paste dari alamat situs lain akan memperkaya sumber dari internet.

    2. Internet sebagai media, memuat banyak artikel diantaranya artikel sejarah. Hal tersebut bisa dianggap baik karena kita bisa mendapatkan referensi selain buku yang bisa memperluas wawasan. Tetapi apabila sumber yang tersedia hanya copy paste dari artikel lain yang relatif sama tidak begitu menguntungkan. Belum lagi artikel yang sudah didapat memerlukan kritik baik ekstern maupun intern, sedangkan mengkritik sumber bila tidak diimbangi dengan pengetahuan dan sumber yang cukup terhadap topik artikel yang kita buat akan sulit juga.
    Bila kita hanya menjadi pengguna dari kemajuan teknologi informasi tanpa memberikan kontribusi lain seperti memuat artikel-artikel sejarah di internet yang merupakan karya kita sendiri bukan hasil dari plagiat, maka plagiarisme bisa dikurangi minimal dimulai dari diri kita sendiri.

    3. Dalam metodologi sejarah, Heuristik adalah kegiatan mencari dan mengumpulkan sumber sebagai tahap pertama yang kemudian dilanjutkan pada tahap kedua yaitu Kritik sumber dan seterusnya. Adapun sumber sejarah sendiri terbagi kedalam sumber benda, sumber tulisan dan sumber lisan. Sumber sejarah baik benda maupun tulisan ada yang merupakan sumber pertama atau kedua yang relevan dengan topik. Sumber tersebut bisa didapat di perpustakaan, museum maupun arsip. Selain itu ada juga sumber sejarah yang berupa tulisan-tulisan baik jurnal maupun artikel yang bermanfaat bagi penelitian dan bisa didapat di media internet. Setelah mendapatkan sumber maka kita menganalisis dan mengkritik sumber tersebut untuk mendapatkan sumber yang valid dan otentik sebagai fakta sejarah. Keberadaan kedua artikel ini setelah dilakukan kritik ekstern maupun intern tidak bisa dianggap valid karena tidak ada sumber lain yang mendukung pernyataan dalam artikel, bahkan ada artikel yang sama sehingga bisa dikatakan sebagai plagiat. Sedangkan dalam penulisan kaya sejarah yang ilmiah plagiat itu tidak dibenarkan.

  30. September 24, 2011 at 1:05 pm

    dahlia
    0805873
    1. menurut pendapat saya kedua artikel tersebut sama persis, meskipun berbeda angka tahunnya. bisa dikatakan artikel kedua merupakan hasil plagiat dari artikel pertama. Itu jelas dan memang terbukti kedua artikel memiliki kemiripian 100% sama. Dalam konten isi artikel tersebut memiliki isi yang sangat buruk dan memberikan kesan mempermainkan dan melecehkan tokoh- tokoh sejarah. Entah bagaimana penulis menurliskan artikel yang sangat tidak menghargai sejarah. Penulis artikel tersebut seolah – olah memang berada pada jaman yang dia jelaskan pada artikel dan dia berada disana. Dalam penjelasan artikel memang sangat detail namun itu bukan berarti artikel tersebut memiliki kredibititas yang tinggi.
    2. menyingkapi masalah plagiat, plagiat memang sudah menjamur dikalangan masyarakat begitupun dikalangan mahasiswa. dalam penulisan karya ilmiah seharusnya mahasiswa berfikir sendiri untuk membuat karyanya tersebut. sebuah karya haruslah berasal dari seorang penulis yang merupakan tumpahan dari apa yang ada dipikirannya sendiri. meskipun jika memang mengambil atau mengutip dari hasil tulisan orang lain seharusnya mereka menyantumkan sumber dengan jelas. kemajuan teknologi yang begitu pesat memang mendorong manusia untuk bertindak / bersifat instan dalam arti manusia pada jaman sekarang menyukai hal – hal yang sifatnya instan atau cepat. mungkin hal inilah yang mendorong mahaiswa untuk melakukan plagiat dalam pembuatan karya ilmiah padahal jika ditelaah dengan baik banyak sumber- sumber di dalam internet yang masih perlu di kritisi dan tidak langsung di copy paste. seperti dalam konteks isi dari kedua artikel tersebut yang tidak kredibel / tidak jelas sumbernya. Plagiat bukan saja mengcopy paste dari sumber yang ada di internet saja melainkan juga mengcopy paste dari hasil tulisan karya ilmiah orang lain. Jelas ini merupakan tindakan yang sangat buruk.
    3. Dalam penelitian sejarah hal yang pertama dilakukan adalah heuristik atau pencarian sumber – sumber. Dalam mencari sumber tentunya sebagai peneliti harus memilih sumber yang benar- benar layak dijadikan sebagai sumber yang benar- benar kredibel. Kita harus menyeleksi sebaik mungkin mana sumber yang bagus dan mana sumber yang tidak bagus. Dari kedua artikel yang sama tersebut, menurut saya artikel tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sumber sejarah yang kredibel/ baik. Sumber tersebut cenderung main – main dan tidak realistis. Artikel yang bisa dijadikan sebagai sumber harusnya jelas dan mempunyai sumber-sumber yang akurat agar bisa dipertanggungjawabkan.

  31. September 24, 2011 at 2:42 pm

    NAMA : ULIN NI’MAH
    NIM : 0901469
    PENDIDIKAN SEJARAH / C

    1. Dari kedua artikel tersebut dapat dilihat jelas bahwa kedua artikel tersebut sama persis. Plagiator ini hanya mengcopy-paste karya orang lain, dengan sikap seperti itu terlihat bahwa Plagiator ini tidak kreatif, tidak mempunyai inovasi baru, dan malas berfikir sama saja seperti mempermalukan diri sendiri. Dari segi isi artikel ini kurang meyakinkan dan membingungkan.
    2. Plagiarisme sudah bukan hal yang aneh lagi di dunia ini, baik di dunia nyata maupun di dunia maya di negara manapun banyak terjadi plagiarisme. Tak hanya dalam bidang seni, plagiarisme juga dilakukan di bidang pendidikan bahkan seorang Profesor pun melakukan plagiarisme. Plagiarisme dalam dunia maya sulit untuk dicegah dan dihentikan karena plagiarisme tergantung pada individu-individu itu sendiri. Ini lah dampak negatif dari kemajuan teknologi yang tidak diimbangi oleh kemajuan berpikir dan keimanan. Menyikapi hal ini, kita harus lebih berhati-hati dalam mengumpulkan sumber sejarah. Banyak sumber sejarah yang dapat kita temukan, apalagi di dunia maya namun kita harus melakukan kritik terhadapnya. Seharusnya perlu ada tindakan serius terhadap plagiarisme ini agar tidak marak terjadi dimana-mana agar generasi penerus kita menjadi generasi yang inovatif dan kreatif.
    3. Dalam metodologi sejarah ada 4 langkah yang harus ditempuh ketika seseorang akan melakukan suatu penelitian, dan langkah pertama yang harus ditempuh adalah heuristik. Heuristik adalah pengumpulan sumber sejarah. Dalam melakukan pengumpulan sumber ini tidak sembarangan, karena sumber yang kita dapat akan mempengaruhi interpretasi atau tulisan kita. Agar mendekati fakta sebenarnya, kita harus melakukan kritik terhadap sumber yang kita peroleh baik isinya maupun fisiknya.
    Menurut saya kedua artikel ini kurang pas bila dijadikan sumber sejarah. Dilihat dari segi isinya mengenai Soekarno yang buang air kecil melalui lubang kecil yang terdapat di dinding pesawat. Dari mana penulis tersebut mengetahui tentang hal itu? saya pikir seorang Presiden akan menjaga wibawanya.

  32. September 24, 2011 at 10:37 pm

    Nama: Andika Yudhistira Pratama
    NIM: 1005773

    1. Komentar saya terhadap kedua artikel tersebut merupakan salah satu plagiarisme. karena, dalam kedua artikel tersebut isi dan penulisannya sangat mirip sekali dan ini sebenarnya merupakan sesuatu yang tidak baik dan dapat merugikan penulis yang asli dan ini sama dengan mencuri kekayaan intelektual orang lain.

    2.Menurut saya, kegiatan plagiarisme adalah suatu tindakan yang tidak baik dan hanya akan merugikan bagi yang melakukannya. karena, dengan plagiat seseorang tidak akan menjadi lebih baik atau lebih pintar, sebab seseorang yang melakukan plagiat tidak akan mampu untuk menambah atau merubah kemampuannya sendiri dan hanya akan menjadi seorang yang berwatak malas dan sulit untuk menjadi seseorang yang pintar atau cerdas.

    3. Yang saya pahami tentang langkah pertama dalam metodologi sejarah adalah pengumpulan sumber-sumber atau data-data sejarah yang sesuai dengan apa yang akan di teliti oleh seorang sejarawan itu. baik sumber primer yang merupakan sumber langsung dari saksi mata atau pelaku dari peristiwa bersejarah itu sendiri dan sumber yang didapat dari dokumen-dokumen penting atau arsip. serta sumber sekunder yang didapat dari tulisan-tulisan yang berasal dari buku, artikel dan koran.

    keberadaan kedua artikel tersebut bila berdasarkan metodologi sejarah menurut saya dapat dijadikan sebagai sumber sekunder. Namun, keabsahan dan kebenarannya masih perlu dicari dan di kaji kembali karena, salah satu artikel ini menurut saya adalah praktek plagiarisme.

  33. September 25, 2011 at 12:45 am

    NAMA : ULIN NI’MAH
    NIM : 0901469
    PENDIDIKAN SEJARAH / C

    1. Dari kedua artikel tersebut dapat dilihat jelas bahwa kedua artikel tersebut sama persis. Plagiator ini hanya mengcopy-paste karya orang lain, dengan sikap seperti itu terlihat bahwa Plagiator ini tidak kreatif, tidak mempunyai inovasi baru, dan malas berfikir sama saja seperti mempermalukan diri sendiri. Dari segi isi artikel ini kurang meyakinkan dan membingungkan.

    2. Plagiarisme sudah bukan hal yang aneh lagi di dunia ini, baik di dunia nyata maupun di dunia maya di negara manapun banyak terjadi plagiarisme. Tak hanya dalam bidang seni, plagiarisme juga dilakukan di bidang pendidikan bahkan seorang Profesor pun melakukan plagiarisme. Plagiarisme dalam dunia maya sulit untuk dicegah dan dihentikan karena plagiarisme tergantung pada individu-individu itu sendiri. Ini lah dampak negatif dari kemajuan teknologi yang tidak diimbangi oleh kemajuan berpikir dan keimanan. Menyikapi hal ini, kita harus lebih berhati-hati dalam mengumpulkan sumber sejarah. Banyak sumber sejarah yang dapat kita temukan, apalagi di dunia maya namun kita harus melakukan kritik terhadapnya. Seharusnya perlu ada tindakan serius terhadap plagiarisme ini agar tidak marak terjadi dimana-mana agar generasi penerus kita menjadi generasi yang inovatif dan kreatif.

    3. Dalam metodologi sejarah ada 4 langkah yang harus ditempuh ketika seseorang akan melakukan suatu penelitian, dan langkah pertama yang harus ditempuh adalah heuristik. Heuristik adalah pengumpulan sumber sejarah. Dalam melakukan pengumpulan sumber ini tidak sembarangan, karena sumber yang kita dapat akan mempengaruhi interpretasi atau tulisan kita. Agar mendekati fakta sebenarnya, kita harus melakukan kritik terhadap sumber yang kita peroleh baik isinya maupun fisiknya.
    Menurut saya kedua artikel ini kurang pas bila dijadikan sumber sejarah. Dilihat dari segi isinya mengenai Soekarno yang buang air kecil melalui lubang kecil yang terdapat di dinding pesawat. Dari mana penulis tersebut mengetahui tentang hal itu? saya pikir seorang Presiden akan menjaga wibawanya.

  34. Taupik
    September 25, 2011 at 1:29 am

    Nama : Taupik
    Nim : (1002992)
    Jurusan Pendidikan Sejarah, Kls F

    1. Setelah Anda amati Artikel tersebut apa komentar anda ?
    Setelah saya membaca dan mengamati kedua Artikel tersebut dapat terlihat dari setiap kata-katanya begitu banyak dan hampir secara keseluruhan kata-kata dari artikel tersebut mempunyai banyak kesamaan dan kemiripan , dengan kata lain dapat pula disebutkan bahwa pembuatan Artikel tersebut itu menjiplak atau meniru secara hampir keseluruhan ataupun sebagian banyak.
    Penjiplakan hasil karya orang lain ataupun dalam hal ini penjiplakan pembuatan artikel adalah merupakan suatu tindakan ataupun kegiatan yang kurang terpuji dan telah melanggar hukum yang mana telah diatur dalam Undang-Undang Nomor.19 tahun 2002 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor. 12 tahun 1997 pasal 44 tentang Hak Cipta, Pasal 72 yaitu diantaranya :
    (1). Barangsiapa dengan Sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memakai izin untuk itu , dipidana dengan penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan atau denda paling sedikit 1.000.000,00 (satu juta Rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling Banyak 5.000.000.000,00 (lima miliar Rupiah).
    Selain melanggar undang-undang yang telah dibuat, perbuatan plagiarisme juga menurut pendapat saya suatu perbuatan yang kurang baik untuk penulisan Karya Ilmiah, dimana etika seorang dalam penulisan karya ilmiah tercoreng jika dengan sengaja melakukan Plagiarisme.
    2. Bagaimana anda menyikapi Plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah ?
    Sikap saya dalam terjadinya Plagiarisme di karya (artikel), Sejarah sangat prihatin dan sangat merugikan orang lain, dimana dalam sebuah karya (artikel) sejarah bila terjadi Plagiarisme itu akan Sulit merubah dan membenarkan suatu pemahaman atau pandangan seseorang atau pun pandangan Umum jika terjadai kesalahan dalam pemahaman Sejarah dalam suatu artikel Sejarah akibat dari karya seseorang yang bukan ahli Sejarah dan kurang memahami Sejarah itu sendiri. Ataupun jika ditemukan bukti-bukti baru yang menguatkan bahwa dalam penulisan artikel tersebut terjadi kekeliruan pemahaman sejarah, maka jika sudah terjadi Plagiarisme dalam penulisan karya (artikel) sejarah tersebut akan sulit merubah atau mengklarifikasi terhadap karya yang Keliru tersebut , dikarnakan bahwa yang membuat karya (artikel) tersebut tidak mempunyai bukti-bukti kuat dalam alasan penulisan karya (artikel) nya tersebut, karena mereka hanya melakukan Plagiarisme.
    Dan seperti yang kita pahami bersama dalam penulisan karya (artikel) sejarah tersebut , harus mencari dan mengangkat sebuah kebenaran dan ke Objektifan dalam pengumpulan data-data Sejarah ataupun dalam mempubliikasikanya, jika Plagiarisme itu benar-benar terjadi pada suatu karya Sejarah , tentu saja itu akan menyakiti dan merugikan Sejarahwan atau orang yang menciptakan karya-karya Sejarah tersebut, yang dalam pembuatan karya Sejarah itu tidak semudah menjiplak. Perlu pengumpulan data, kemudian melakukan kritik eksternal dan internal dan banyak hal lainya yang perlu di perhatikan, dan jika dijiplak dengan begitu saja tentu akan merugikan Sejarahwan yang membuat karya sejarah tersebut.
    3. Apa yang anda pahami mengenai Metodologi Sejarah Langkah pertama ? dan bagaimana posisi keberadaan kedua artikel ini bila dilihat dalam metodologi Sejarah ?
    Yang saya pahami mengenai Metodologi Sejarah langkah pertama yaitu adalah mengumpulkan Bahan-bahan yang dapat dipergunakan untuk menghimpun Informasi-informasi penting mengenai peristiwa yang terjadi di Masa lampau , jejak-jejak ataupun peninnggalan-peninggalan bukti-bukti kejadian Sejarah dimasa lalu itu dijadikan sebuah objek yang diteliti,dikaji dan disimpulkan oleh sejarahwan , objek tersebut yang diteliti melalui tahap Heuristik terlebih dahulu kemudian di Kritik yang terdiri dari kritik Internal dan kritik eksternal .
    Kemudian tahap selanjutnya adalah menguji dan mengkaji kebenaran dari peninggalan-peninggalan Sejarah tersebut , dengan menganalisis secara kritis bukkti-bukti dan data-data sejarah tersebut sehingga menjadi penyajian peristiwa sejarah yang dapat dipercaya.
    Kemudian menurut pendapat saya mengenai keberadaan kedua artikel tersebut jika dilihat dan ditinjau dari Metodologi Sejarah , yaitu kurang memenuhi syarat untuk menjadi penyajian peristiwa sejarah yang baik , karena dalam penyajian artikel tersebut kurang adanya suatu bukti-bukti sejarah sehingga penyajian sejarah dalam artikel tersebut kurang dipercaya akan kebenaran sejarahnya.
    Kemudian ada beberapa tulisan yang patut dipertanyakan dan diuji kebenaranya, yaitu diantaranya tentang Draft asli teks Proklamasi yang ditemukan di tong Sampah , kehancuran rezim penguasa Indonesia jika menggunakan gambar wayang dalam mata uang ,dan Belanda yang menjajah Indonesia selama 350 tahun lebih, semua itu patut dipertanyakan tentang bukti kebenaran peristiwa sejarah tersebut ,kemudian orang yang mempublikasikan peristiwa sejarah dalam karya (artikel) tersebut perlu dipertanyakan kredibelitas dan pendidikannya.

  35. September 25, 2011 at 4:45 am

    Nama: Sutisna
    Nim: 0901576
    jurusan: Pendidikan Sejarah

    1. Setelah anda cermati kedua artikel tersebut, apa komentar anda?
    Jawaban: Setelah saya membaca kedua artikel tersebut, terlihat jelas bahwa keduanya memiliki isi yang sama, contoh seperti ini lah yang bisa kita sebut sebagai plagiat atau menjiplak. Kedua artikel terlihat sama persis, bahkan ditinjau dari karakteristik penulisan pun hampir tidak bisa dibedakan, yang sedikit membedakan dalam kedua artikel ini adalah dengan ditampilkannya gambar pembacaan teks proklamasi pada salah satu artikel yang berjudul “Unik Sejarah RI” tersebut. Permasalahan siapa yang menjadi plagiator artikel ini bisa kita lihat pada angka tahun pembuatan ataupun posting artikel keduanya. Bila kita cermati pembuatan atau posting artikel tersebut terpaut dua tahun,dari situ kita bisa simpulkan bahwa pembuat salah satu artikel yang tahunnya lebih kekinian atau baru, adalah yang menjadi plagiatornya atau penjiplaknya. Karena tidak mungkin bila kedua orang yang berbeda pada suatu tempat dan waktu yang berbeda pula bisa menuliskan suatu artikel yang sama persis walaupun mungkin mereka mempunyai satu ide atau pemikiran yang sama tetapi mustahil bila kedua artikelnya sama persis dilihat dari aspek tulisan dan bahasanya.

    2. bagaimana anda menyikapi persoalan plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah?
    Jawaban: plagiarisme dalam karya ilmiah/ sejarah merupakan perbuatan yang melanggar hukum bila dilakukan tanpa sepengetahuan dan izin dari penulis yang asli. Sebenarnya plagiarisme bukan merupakan sesuatu yang aneh pada kehidupan masa kini, banyak sekali terjadi plagiarisme dalam berbagai hal ataupun bidang. Plagiarisme dalam karya-karya sejarah pun sudah cukup banyak terjadi baik yang disadari maupun yang tidak disadari, sesorang yang melakukan plagiarisme dalam karya sejarah merupakan orang yang tidak memahami atau tidak mengetahui tentang materi yang akan ia tulis/buat, itu terjadi bisa karena orang tersebut bukan dari kalangan orang yang menggeluti dunia sejarah, ataupun orang yang menggeluti dunia sejarah namun tidak mempunyai wawasan yang cukup luas tentang tulisan yang akan ia buat, orang yang melakukan plagiarisme dalam karya sejarah secara tidak langsung menunjukkan bahwa dirinya orang yang tidak mampu untuk membuat karya sejarah. Dalam menyikapi persoalan plagiarisme ini, tentu kita harus memiliki kesadaran diri dalam memaknai apa itu plagiarisme dan resiko apa yang akan kita terima apabila melakukan plagiarisme tersebut.

    3. Apa yang anda pahami mengenai metodologi sejarah langkah pertama? dan bagaimana posisi keberadaan kedua artikel ini bila dilihat dari metodologi sejarah?
    Jawaban: menurut Prof. Dr.Kuntowijoyo dalam buku Pengantar Ilmu Sejarah menerangkan bahwa metodologi sejarah yang pertama adalah Heuristik, yaitu tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang betul-betul valid dan otentik yang kemudian terbagi menjadi data primer dan sekunder. Bila dikaitkan dengan metodologi sejarah kedua artikel ini termasuk dalam tahap heuristik yaitu sebagai sumber-sumber sejarah yang sekunder, isi materi dari kedua artikel ini memang belum diketahui kebenarannya/keabsahannya bila kita belum melakukan kritik sumber, namun dari segi bahan atau sumber sejarah kedua artikel ini bisa disebut sumber sejarah. Bila kita kritik terhadap kedua artikel ini barulah kita bisa menentukan mana yang betul-betul asli/otentik dan mana yang palsu.
    Jadi pada intinya kita harus kritik terhadap sumber-sumber sejarah yang ada baik itu dari buku, dari dokumen-dokumen, maupun dari artikel-artikel.

  36. September 25, 2011 at 6:31 am

    Nama: Octaviany Maulida
    Nim: 0901659

    1. Kedua artikel yang saya baca yang berjudul “Artikel Unik Sejarah Republik Indonesia” dan “Yang Unik Tentang Sejarah Indonesia” memiliki kesamaan. Dari hal yang terkecil, yaitu titik koma terlihat sangat mirip tata letaknya. Hal ini bisa dikatakan dari artikel tersebut ada yang melakukan plagiat artikel tersebut, karena menurut saya akan tidak mungkin salah satu dari mereka yang berada di tempat yang berbeda memiliki ide yang sama dan menulis artikel yang sama persis dalam kurun waktu yang cukup lama. Hal seperti ini jelas tidak mungkin jika diantaranya tidak melakukan plagiat. Dan menurut analisis saya dari kalimat awal artikel tersebut: “Di bawah ini ada artikel yang menarik yang saya ambil dari sebuah link, semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan tentang sejarah detik2 kemerdekaan RI, yang sebagian orang tidak tahu bagaimana keadaaan saat itu”, berpendapat bahwa kedua artikel tersebut melakukan plagiat karena jika dilihat dari kata “Di bawah ini ada artikel yang menarik yang saya ambil dari sebuah link” jelas mereka juga melakukan copy paste pada artikel yang aslinya.

    2. Bagaimana anda menyikapi persoalan plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah?
    Untuk menyikapi persoalan plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah khususnya di Perguruan-perguruan Tinggi, tentu harus ada kesadaran dari diri sendiri. Karena hampir mungkin setiap orang sadar atau tidak sadar mereka pasti melakukan plagiarisme dalam penulisan artikelnya. Mungkin kita memiliki pemikiran atau pendapat yang sama dengan orang lain dan itu bisa dikatakan bukan plagiat, karena menurut saya plagiat itu adalah mengambil pendapat orang lain secara mentah-mentah tanpa menggabungkannya dengan pendapat kita sendiri.

    3. Apa yang anda pahami mengenai metodologi sejarah langkah pertama? Dan bagaimana posisi keberadaan kedua artikel ini bila dilihat dari metodologi sejarah?
    Metodologi sejarah langkah pertama adalah heuristik. Heuristik yaitu upaya penelitian yang mendalam untuk menghimpun jejak-jejak sejarah atau mengumpulkan dokumen-dokumen agar dapat mengetahui segala bentuk peristiwa atau kejadian-kejadian bersejarah di masa lampau. Dilihat dari metodologi sejarah, posisi keberadaan kedua artikel tersebut jelas jauh dari metodologi sejarah yang pertama. Penulis kedua artikel tersebut tidak mencantumkan sumber-sumber yang relevan atau sumber-sumber sejarah yang mendukung tentang artikelnya. Seorang sejarawan tentu akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang peristiwa sejarah yang akan ditelitinya lalu dituangkannya ke dalam bentuk karya (artikel) sejarah.

  37. September 25, 2011 at 6:44 am

    Nama : Jajang Nurjaman
    NIM : 0901400
    Email : Jank_zman@yahoo.com

    MASALAH PLAGIARISME DALAM PENULISAN
    Jika melihat kedua artikel tersebut tentu sebelumnya kita harus mengetahui apa yang dimaksud dengan heuristik. Mengutip dari pendapatnya I Gde Widja bahwa “Heuristik adalah kegiatan dalam rangka mencari, menemukan dan mengumpulkan data yang digunakan sebagai sumber, baik lisan maupun tulisan. Heuristik digunakan untuk menemukan serta mengumpulkan jejak-jejak yang sebenarnya mencerminkan berbagai aktivitas manusia di waktu yang lampau” (I Gde Widja, 1989:18).
    Dari pendapat tersebut kita bisa mengetahui bagaimana heuristik itu digunakan dalam sebuah penulisan atau penelitian sejarah. Jika melihat kedua artikel tersebut tidak menemukan keduanya bersumber dari buku atau jurnal yang bisa dipercayai keberadaannya hanya melakukan copy-paste dari berbagai alamat blog atau alamat web tertentu. Kemudian dilihat dari pembendaharaan kata dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) belum memenuhi kriteria yang baik dan benar dalam penulisan sebuah artikel. Dalam penulisan sejarah ada beberapa aturan yang harus dipatuhi misalnya jika kita akan memakai sebagian atau seluruh kalimat, maka kita harus mencantumkan tulisan itu diambil dari sumber apa. Misalnya sebagai berikut:
    Kebudayaan berasal dari bahasa Sansakerta “buddayah”, yaitu bentuk jamak “buddhi” yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian, kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Kata “culture” yang merupakan kata asing yang sama artinya dengan “kebudayaan” berasal dari kata Latin, “colere” yang berarti “mengolah, mengerjakan”, terutama mengolah tanah atau bertani. Arti ini berkembang, culture sebagai segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan merubah alam. Penelusuran secara etimologis akan memperjelas pengertian kebudayaan, namun perlu adanya kehati-hatian terhadap asal-usul kata yang tidak jelas, sebab hal ini dapat mengaburkan pengertian kebudayaan itu sendiri (Basrowi, 2005: 70-71).
    Dari contoh tersebut bisa kita lihat bahwa mengutip sebagian atau seluruh kalimat haruslah disertai dengan referensi yang kita dapat darimana. Jika seseorang melakukan copy-paste itu boleh-boleh saja asalkan digunakan sesuai kaidah-kaidah yang berlaku dan harus selalu mencantumkan darimana kita mengambil referensi tersebut. Melihat dari kedua artikel tersebut tidak ditemukan penggunaan pengutipan yang baik dan berasal dari referensi apa. Dan juga penulis tidak menggunakan kritik terhadap sumber yang ia dapat baik itu kritik ekstern dan kritik intern. Sehingga kedua artikel tersebut rasanya belum pantas untuk dijadikan sumber referensi yang baik bagi sebuah penulisan sejarah.
    Sumber:
    Basrowi. (2005). Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia.
    Ismaun. (2005). Pengantar Belajar Sebagai Ilmu dan Wahana Pendidikan. Bandung: Historia Utama Press.
    Sjamsuddin, Helius. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

  38. September 25, 2011 at 8:38 am

    Nurfitri Hermayati (0800276)

    tanggapan saya terhadap kedua artikel yang telah saya baca tadi ialah bahwa kedua artikel itu memanglah sangat mirip dalam hal kontent atau materinya. Hampir tidak ada perbedaan sama sekali dari segi isinya. yang membedakan hanyalah jenis pemostingan dan orang yang memostingkannya, jika dilihat secara kasat mata bahwa kebanyakan orang pasti akan berinterpretasi bahwa artikel dalam blog lah yang mengikuti atau mungkin bahkan menjiplak isi dari artikel yang dipostingkan oleh Tifand. saya setuju dengan rekan-rekan diatas yang menyebutkan bahwa artikel kedua adalah hasil jiplakan dari artikel pertama karena jika kita melihat arti kata plagiat itu sendiri menurut http://www.artikata.com/arti-345419-plagiat.html yang menyebutkan bahwa plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, msl menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan. maka dapat disimpulkan bahwa artikel kedua merupakan hasil dari proses plagiat karena melihat aspek waktu artikel pertama lah yang lebih dulu dipostingkan. selain itu pada artikel kedua pun menuliskan nama orang yang mempostingkannya sehingga para pembaca pun termasuk saya akan beranggapan bahwa pemosting kedua telah menjadikan tulisan ini seolah-olah sebagai karyanya. tetapi tidak dapat dipungkiri juga jika si pemosting pertama ini juga mungkin melakukan hal yang sama karena disini ia tidak mencantumkan sumber yang pasti dari mana materi ini didapat sehingga saya pun tidak berani menyebut si pemosting sebagai penulis, saya cukup menyebutnya si pemosting.
    Saya tidak setuju kepada salah satu rekan diatas yang menyebutkan bahwa artikel ini terlihat hanya main-main. jika kita lihat isi materinya mungkin kita juga beranggapan bahwa ini merupakan lelucon di dalam sejarah Indonesia. tetapi jika memang benar bukankah kita bisa menganggapnya sebagai tambahan untuk wawasan kita juga. kita tidak boleh langsung menjudge bahwa si pemosting membuat ini hanya untuk main-main mungkin saja si pemosting ingin membuka mata kita juga bahwa terdapat sesuatu hal yang membuat kita tertawa ketika mengkaji sejarah, mungkin juga pemosting ingin membuka mata pembaca bahwa mengkaji sejarah itu tidak selalu harus serius. sekarang tugas kita sebagai mahasiswa pendidikan sejarah untuk mengkaji sumber ini apakah kredible atau tidak.

    Dalam menanggapi pertanyaan no 2, maka yang terlintas difikiran saya yaitu pada banyaknya artikel-artikel yang sejenis yang saya temukan ketika mencari data untuk kepentingan tugas kuliah saya. sehingga saya berkesimpulan bahwa sekarang ini kegiatan plagiat bukan merupakn sesuatu hal yang asing bagi kita. hal ini mungkinkah disebabkan oleh semakin canggihnya dunia teknologi dan informasi ataukah karena di Indonesia belum ada lembaga yang secara khusus mengurusi mengenai hak cipta seseorang walaupun sekarang ini sudah terdapat diktti tetapi belum juga sampai pada pengawasan karya ilmiah pada tingkat dunia maya. oleh karena itu saya setuju dengan pendapat rekan saya yang bernama Siska Nurmala sari yang menyebutkan bahwa di Indonesia pun harus terdapat lembaga khusus yang mengawasi hak cipta seseorang seperti di AS.
    kaitannya dengan penjiplakan dalam karya (artikel) sejarah, memang sekarang ini sudah banyak ditemukan artikel-artikel yang sama atau sejenis dalam berbagai aspeknya. hal ini memang tidak sepantasnya dilkukan oleh para akademisi sejarah. karena di dalam ilmu sejarah atau pendidikan sejarah kita telah mempelajari bagaimana tata cara mengkaji ilmu sejarah sampai pada pembuatan karya ilmiah sejarah dan didalam hal itu tidak terdapat proses plagiat atau penjiplakan.

    yang saya ketahui mengenai langkah pertama dalam metodologi sejarah ialah heuristik dimana langkah ini merupakan kegiatan mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah. kaitannya dengan kedua artikel diatas ialah bahwa kita tidak dapat melihat bahwa si pemosting melakukan kegiatan heuristiknya dengan baik karena tidak mencantumkan sumbernya. terutama pada artikel kedua, si pemosting bahkan sama sekali tidak melakukan langkah heuristik karena ia langsung saja melakukan kegiatan plagiat.
    bagi kita sebagai mahasiswa pendidikan sejarah maka menurut saya kita dapat menjadikan artikel ini sebagai pengetahuan dasar atau mungkin sumber awal dalam mengkaji sejarah tetapi jangan dibuat sebagai sumber utama karena harus dilengkapi dengan buku-buku yang relevan karena artikel diatas harus diuji kembali kebenarannya.

  39. September 25, 2011 at 9:53 am

    Nama : Dede Indra
    NIM : 1005744
    Kelas : E

    1. Komentar saya dari kedua artikel tersebut sama persis bahkan sampai titik komanya pun sama. Hal ini tidaklah aneh di zaman sekarang ini dalam hal dunia maya. Dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang dan orang – orang dengan mudah dapat mengakses sumber atau data dengan mudahnya. Dengan mudahnya orang mendapatkan sumber hanya melalui internet menyebakan orang menjadi malas dan tergoda untuk melakukan plagiarisme.
    Hal plagiarisme sudah biasa terjadi dalam dunia maya. Teknologi yang sudah berkembang dengan pesat tersbut pun dapat dengan mudah digunakan oleh orang lain dan dapat juga dengan mudah melakukan plagiat. Dapat kita lihat dari sumber kedua artikel tersebut. Yang pertama bersumber dari kaskus sedangkan yang kedua bersumber dari blog orang lain. Hal ini membuktikan bahwa plagiat dalam dunia maya sudah menjamur dan merajalela. Dari kedua artikel tersebut dengan sumber yang berbeda menjelaskan bahwa informasi yang ada dalam artikel tersebut sudah banyak di plagiat. Tetapi kedua artkel tersebut masih tetap menggunakan sumber asalnya. Maka selama orang yang melakukan copy paste tersebut mencantumkan sumber, bagi saya itu tidak merupakan suatu kegiatan plagiat.

    2. Menurut saya kegiatan plagiarisme dalam karya artikel sejarah itu harus dihilangkan karena dengan plagiarisme membuat mahasiswa menjadi malas dan menggampangkan semua tugas yang diberikan dosennya bahkan skripsi pun sudah tinggal copy paste saja. Selama plagiat ini masih mewabah dalam dunia mahasiswa saya menjamin bahwa sulit mendapatkan orang yang benar – benar berkompeten. Bila dari mahasiswa saja sudah menjadi plagiator bagaimana dengan nantinya ketika mereka sudah mendapatkan gelar sarjana atau insinyur. Maka menurut saya plagiat harus dihapuskan tidak hanya dalam pembuatan artikel sejarah tapi juga dalam bidang pendidikan lainnya.

    3. Bisa kita ketahui dalam mata pelajaran sejarah terdapat 4 metodologi sejarah. Yaitu :
    1. Heuristik 3. Interpretasi
    2. Kritik 4. Historiografi
    Dalam langkah Heuristik ini para sejarawan mencari sumber – sumber atau data – data. Lalu data – data yang telah ditemukan tersebut dikritik dalam langkah kedua metodologi sejarah. Setelah dikritik baik secara internal ataupun eksternal maka para sejarawan mendapatkan fakta. Setelah mendapatkan fakta – fakta, maka para sejarawan tersebut mulai memasukkan unsur subjektif dalam langkah ketiga dalam metodologi sejarah yaitu langkah interpretasi. Setelah para ahli sejarawan melakukan tahap interpretasi maka para sejarawan tersebut pun melakukan tahap terakhir yaitu tahap penulisan sejarah atau yang kita sebut dengan historiografi.
    Maka tahap heuristic ini sangat penting dalam suatu penulisan karya ilmiah sejarah, karena heuristic merupaka tahap awal atau tahap dasar. Bila heuristic ini tidak dilakukan maka para sejarawan tidak dapat melakukan kritik.
    Maka dalam tahap heuristic ini kita harus pandai – pandai memilih suatu sumber sejarah dan berpikir kritis dengan sumber yang kita dapat. Tidak langusng ditelan bulat – bulat sumber – sumber yang kita terima, tapi kita harus berpikir kritis dan mengenai sumber yang kita dapat.
    Menurut saya kedua artikel tersebut masih perlu diuji lagi kebenarannya apakah kedua artikel tersebut memang benar demikian? Kita perlu kembali menguji sumber – sumber yang terdapat dalam artikel tersebut, karena dengan semakin canggihnya teknologi, orang juga dengan mudah memasukan data – data yang belum tentu kebenarannya. Seperti kedua artikel diatas apakah memang benar seperti itu atau tidak. Kita sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Pendidikan sosial Universitas Pendidikan Indonesia seharusnya kita dapat berpikir secara kritis karena dalam sejarah banyak interpretasi – interpretasi yang kebenarannya masih perlu diuji lagi dan dipertanyakan kebenarannya. Maka menurut saya kita harus menguji lagi apakah kedua artikel tersebut benar ataukah tidak.

  40. September 25, 2011 at 10:35 am

    Nama: Angga deriansah
    NIM: 0901534
    Email: angga_derian@yahoo.co.id

    MASALAH PLAGIARISME DALAM PENULISAN
    Setelah saya baca dan cermati dari kedua artikel itu memang nyaris tidak ada perbedaan dari segi penulisan, walaupun dalam tampilannya memang berbeda. Kedua artikel ini menuangkan informasi mengenai sautu peristiwa sejarah. Membicarakan mengenai masalah plagiarisme memang sulit kita bendung karena dengan semakin majunya dunia teknologi informasi sehingga seseorang bisa dengan mudah mengakses suatu informasi dimanapun dan kapanpun. Dari kedua artikel ini mencontohkan begitu mudahnya mencari informasi dari manapun, kedua artikel ini memang merujuk pada dua sumber yang berbeda tapi isinya sama. Misalkan artikel pertama mencantumkan subernya yaitu http://www.kaskus.us/showthread.php?t=941590, dan kemudaian artikel kedua merujuk pada http://k3mb4r091.blogspot.com setelah saya telusuri dari kedua sumber ini ternyata tidak begitu jelas dari mana asal artikel ini sebagai contoh yang pertama yaitu yang bersumber pada kaskus.com itu tidak ada pencantuman sumber sendiri ataupun sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan. Dari hal ini saya dapat simpulkan bahwa penjiplakan yang dilakukan dalam atrikel ini tidak diketahui dari mana asalnya dan saya mengambil kesimpulan bahwa kedua artikel ini tidak tahu mana yang terlebih dahulu menjiplak atau siapa yang dijiplak. Inilah salah satu contoh dari sikap plagiarism yang sudah menjadi hal yang lumrah dikalangan masyarakat khususnya bagi pelajar atau mahasiswa. Dengan seenak hatinya mengcopy dan tanpa disertai dengan sumber yang valid. Padalah sikap plagiat tidak dibenarkan dalam kehidupan ini baik secara hukum maupun sikap moral pribadi.
    Plagiarisme dalam penulisan suatu karya atau artikel tentu tidak dibenarkan karena jelas hukumnya mengenai plagiarisme itu sendiri tertuang dalam PERMENDIKNAS RI no 17 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PLAGIAT DI PERGURUAN TINGGI. Dalam peraturan mentri itu jelas bahwa yang namanya plagiat adalah perbuatan yang melanggar hukum dan ada sanksinya. Karena seorang plagiat itu melakuakan perbuatan yang tidak menyenangkan terhadap yang dijiplaknya itu. Tentunya hal yang dinamakan plagiat ini tidak dibenarkan. Dan hal ini tentunya harus dilakukan penindakan yang tegas. Apalagi dalam suatu karya atau artikel sejarah tentunya hal ini akan menimbulkan suatu hal yang salah. Misalkan seseorang menulis suatu karya sejarah kemudian dijiplak oleh orang lain tanpa mencantumkan sumbernya maka hal ini nantinya akan menimbulkan suatu sikap meragukan mengenai suatu peristiwa sejarah ini karena tidak mencantumkan sumbernya. Hal yang demikian tentunya akan berdampak pada keabsahan dari karya tadi. Sejarah itu harus mencantumkan fakta dan sumber yang sebenarnya dan apabila tidak maka diragukan apakah itu peristiwa yang benar terjadi atau bukan. Sebaiknya kita harus menyikapi dengan tegas betapa tercelanya perbuatan plagiarisme ini maka apakah kita melalukan hal yang demikian itu padahal aturannya sudah jelas bahwa yang namanya plagiarism ini merupakan tindakan melanggar hukum.
    Menurut Helius Sjamsudin (2007) langkah-langkah penelitian sejarah ini mengacu pada proses metode penelitian dalam penelitian sejarah yang mengandung empat langkah, sebagai berikut :
    1. Heuristik
    Heuristik merupakan kegiatan dalam rangka mencari, menemukan dan mengumpulkan data yang digunakan dalam menjawab permasalahan yang akan dibahas.
    2. Kritik
    Kritik Sejarah atau kritik sumber adalah metode untuk menilai sumber yang kita butuhkan untuk mengadakan penilaian sejarah.
    3. Interpretasi
    Interpretasi adalah menafsirkan keterangan dari sumber-sumber sejarah berupa fakta dan data yang terkumpul dengan cara dirangkaikan dan dihubungkan sehingga tercipta penafsiran sumber sejarah yang relevan dengan permasalahan.
    4. Historiografi
    Historiografi adalah proses dalam tahapan penyusunan dan penulisan serta pembahasan terhadap sumber-sumber yang telah diperoleh sehingga dapat menjadi satu kesatuan sejarah yang tersusun dalam bentuk karya tulis dan dapat dikomunikasikan kepada pembaca.
    Jika kita kaitkan kembali pada kedua artikel tadi mengenai sumber tulisan maka kedua artikel tadi tidak bisa dijadikan sebagai sumber dalam penulisan sejarah. Karena dalam metodologi sejarah tahap kedua yaitu kita harus melakukan kritik baik intern maupun ekstern dan saya pikir kedua artikel tadi tidak layak dijadikan sumber sejarah karena dengan tidak dicantumkannya sumber yang valid dan diragukan akan kebenarnya.

  41. September 25, 2011 at 11:18 am

    Nama: Angga deriansah
    NIM: 0901534
    Email: angga_derian@yahoo.co.id

    MASALAH PLAGIARISME DALAM PENULISAN
    Setelah saya baca dan cermati dari kedua artikel itu memang nyaris tidak ada perbedaan dari segi penulisan, walaupun dalam tampilannya memang berbeda. Kedua artikel ini menuangkan informasi mengenai sautu peristiwa sejarah. Membicarakan mengenai masalah plagiarisme memang sulit kita bendung karena dengan semakin majunya dunia teknologi informasi sehingga seseorang bisa dengan mudah mengakses suatu informasi dimanapun dan kapanpun. Dari kedua artikel ini mencontohkan begitu mudahnya mencari informasi dari manapun, kedua artikel ini memang merujuk pada dua sumber yang berbeda tapi isinya sama. Misalkan artikel pertama mencantumkan subernya yaitu http://www.kaskus.us/showthread.php?t=941590, dan kemudaian artikel kedua merujuk pada http://k3mb4r091.blogspot.com setelah saya telusuri dari kedua sumber ini ternyata tidak begitu jelas dari mana asal artikel ini sebagai contoh yang pertama yaitu yang bersumber pada kaskus.com itu tidak ada pencantuman sumber sendiri ataupun sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan. Dari hal ini saya dapat simpulkan bahwa penjiplakan yang dilakukan dalam atrikel ini tidak diketahui dari mana asalnya dan saya mengambil kesimpulan bahwa kedua artikel ini tidak tahu mana yang terlebih dahulu menjiplak atau siapa yang dijiplak. Inilah salah satu contoh dari sikap plagiarism yang sudah menjadi hal yang lumrah dikalangan masyarakat khususnya bagi pelajar atau mahasiswa. Dengan seenak hatinya mengcopy dan tanpa disertai dengan sumber yang valid. Padalah sikap plagiat tidak dibenarkan dalam kehidupan ini baik secara hukum maupun sikap moral pribadi.
    Plagiarisme dalam penulisan suatu karya atau artikel tentu tidak dibenarkan karena jelas hukumnya mengenai plagiarisme itu sendiri tertuang dalam PERMENDIKNAS RI no 17 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PLAGIAT DI PERGURUAN TINGGI. Dalam peraturan mentri itu jelas bahwa yang namanya plagiat adalah perbuatan yang melanggar hukum dan ada sanksinya. Karena seorang plagiat itu melakuakan perbuatan yang tidak menyenangkan terhadap yang dijiplaknya itu. Tentunya hal yang dinamakan plagiat ini tidak dibenarkan. Dan hal ini tentunya harus dilakukan penindakan yang tegas. Apalagi dalam suatu karya atau artikel sejarah tentunya hal ini akan menimbulkan suatu hal yang salah. Misalkan seseorang menulis suatu karya sejarah kemudian dijiplak oleh orang lain tanpa mencantumkan sumbernya maka hal ini nantinya akan menimbulkan suatu sikap meragukan mengenai suatu peristiwa sejarah ini karena tidak mencantumkan sumbernya. Hal yang demikian tentunya akan berdampak pada keabsahan dari karya tadi. Sejarah itu harus mencantumkan fakta dan sumber yang sebenarnya dan apabila tidak maka diragukan apakah itu peristiwa yang benar terjadi atau bukan. Sebaiknya kita harus menyikapi dengan tegas betapa tercelanya perbuatan plagiarisme ini maka apakah kita melalukan hal yang demikian itu padahal aturannya sudah jelas bahwa yang namanya plagiarism ini merupakan tindakan melanggar hukum.
    Menurut Helius Sjamsudin (2007) langkah-langkah penelitian sejarah ini mengacu pada proses metode penelitian dalam penelitian sejarah yang mengandung empat langkah, sebagai berikut :
    1. Heuristik
    Heuristik merupakan kegiatan dalam rangka mencari, menemukan dan mengumpulkan data yang digunakan dalam menjawab permasalahan yang akan dibahas.
    2. Kritik
    Kritik Sejarah atau kritik sumber adalah metode untuk menilai sumber yang kita butuhkan untuk mengadakan penilaian sejarah.
    3. Interpretasi
    Interpretasi adalah menafsirkan keterangan dari sumber-sumber sejarah berupa fakta dan data yang terkumpul dengan cara dirangkaikan dan dihubungkan sehingga tercipta penafsiran sumber sejarah yang relevan dengan permasalahan.
    4. Historiografi
    Historiografi adalah proses dalam tahapan penyusunan dan penulisan serta pembahasan terhadap sumber-sumber yang telah diperoleh sehingga dapat menjadi satu kesatuan sejarah yang tersusun dalam bentuk karya tulis dan dapat dikomunikasikan kepada pembaca.
    Jika kita kaitkan kembali pada kedua artikel tadi mengenai sumber tulisan maka kedua artikel tadi tidak bisa dijadikan sebagai sumber dalam penulisan sejarah. Karena dalam metodologi sejarah tahap kedua yaitu kita harus melakukan kritik baik intern maupun ekstern dan saya pikir kedua artikel tadi tidak layak dijadikan sumber sejarah karena dengan tidak dicantumkannya sumber yang valid dan diragukan akan kebenarnya.

  42. September 25, 2011 at 11:30 am

    Nama : Hena Gian Hermana
    NIM : 1001926
    Kelas : E
    Jurusan : Pendidikan Sejarah

    Jika melihat kedua artikel tersebut, baik dalam penulisan maupun isinya terdapat banyak kesamaan dan bisa dibilang kedua artikel tersebut sama persis. Menurut saya, perihal kasus copy-paste sebuah karya ilmiah (artikel) terdapat beberapa hal yang menyebabkannya, seperti; a) kurangnya pengetahuan tentang bahan tulisan, b) kurangnya percaya diri terhadap hasil karyanya, c) adanya sifat malas . bisa dilihat melalui alamat situs ini http://aldyputra.net/2011/07/beberapa-penyebab-copy-paste/. Nah, menurut saya ketiga penyebab itulah yang menjadi awal terjadinya plagiarisme atau copy-paste. jikalau mengaitkan dengan kedua artikel diatas sangatlah mungkin jika ketiga penyebab itulah yang menjadi titik utama seseorang melakukan plagiarisme atau copy-paste. sebagai contoh, banyak sekali kasus plagiarisme atau copy-paste dikalangan mahasiswa. karena diberi tugas sangat banyak oleh dosen dan dengan diberi waktu sangat sedikit sehingga mengakibatkan timbulnya rasa malas pada mahasiswa, kemudian ujung-ujungnya melakukan copy-paste tugas dari orang lain atau temannya sendiri. Nah seperti itulah pendapat atau komentar saya mengenai kedua artikel tersebut.

    Mengenai bagaimana menyikapi persoalan plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah. Secara jujur memang kita tidak bisa menghindari dengan yang namanya plagiarisme. Setiap hari kita selalu akan mendengar, mengetahui, bahkan mengalami plagiarisme. Akan tetapi, dalam hal menyikapi persoalan plagiarisme sangatlah dibutuhkan kesadaran dari diri kita sendiri. Kita harus mengetahui arti dan bahaya dari plagiarisme itu sendiri sehingga jika kita mengetahui arti dari plagiarisme dan juga mengetahui bahayanya melakukan plagiarisme secara tidak langsung akan membuat diri kita menghindari prilaku-prilaku yang berbau plagiarisme. Jika menyikapi persoalan plagiarisme dalam artikel sejarah, sudut pandang penulis sangatlah berpengaruh dalam pembuatan sebuah karya ilmiah, sehingga apabila terdapat sebuah praktek plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah maka akan sangat terlihat jelas jika terdapat sebuah praktek plagiarisme, karena seperti yang tadi saya katakan, sudut pandang penulis terhadap peristiwa yang dikaji akan sangatlah berbeda dengan orang lain walaupun peristiwa yang dikajinya itu sama.

    Metodologi tahap pertama yaitu heuristic. pengumpulan dan pencarian bahan-bahan sumber sejarah yang akan dikaji yang memiliki fakta-fakta sejarah yang akurat dan sumber yang relevan. Namun, jika melihat kedua artikel tersebut sangatlah janggal apabila diposisikan keberadaannya sebagai sumber sejarah. Karena kedua artikel tersebut sudah dikatakan sebagai sumber sejarah yang plagiarisme sehingga tidak dapat dikatakan sebagai sumber yang relevan lagi.

  43. September 25, 2011 at 11:31 am

    Nama: Angga deriansah
    NIM: 0901534
    Email: angga_derian@yahoo.co.id

    MASALAH PLAGIARISME DALAM PENULISAN
    Setelah saya baca dan cermati dari kedua artikel itu memang nyaris tidak ada perbedaan dari segi penulisan, walaupun dalam tampilannya memang berbeda. Kedua artikel ini menuangkan informasi mengenai sautu peristiwa sejarah. Membicarakan mengenai masalah plagiarisme memang sulit kita bendung karena dengan semakin majunya dunia teknologi informasi sehingga seseorang bisa dengan mudah mengakses suatu informasi dimanapun dan kapanpun. Dari kedua artikel ini mencontohkan begitu mudahnya mencari informasi dari manapun, kedua artikel ini memang merujuk pada dua sumber yang berbeda tapi isinya sama. Misalkan artikel pertama mencantumkan subernya yaitu http://www.kaskus.us/showthread.php?t=941590, dan kemudaian artikel kedua merujuk pada http://k3mb4r091.blogspot.com setelah saya telusuri dari kedua sumber ini ternyata tidak begitu jelas dari mana asal artikel ini sebagai contoh yang pertama yaitu yang bersumber pada kaskus.com itu tidak ada pencantuman sumber sendiri ataupun sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan. Dari hal ini saya dapat simpulkan bahwa penjiplakan yang dilakukan dalam atrikel ini tidak diketahui dari mana asalnya dan saya mengambil kesimpulan bahwa kedua artikel ini tidak tahu mana yang terlebih dahulu menjiplak atau siapa yang dijiplak. Inilah salah satu contoh dari sikap plagiarism yang sudah menjadi hal yang lumrah dikalangan masyarakat khususnya bagi pelajar atau mahasiswa. Dengan seenak hatinya mengcopy dan tanpa disertai dengan sumber yang valid. Padalah sikap plagiat tidak dibenarkan dalam kehidupan ini baik secara hukum maupun sikap moral pribadi.
    Plagiarisme dalam penulisan suatu karya atau artikel tentu tidak dibenarkan karena jelas hukumnya mengenai plagiarisme itu sendiri tertuang dalam PERMENDIKNAS RI no 17 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PLAGIAT DI PERGURUAN TINGGI. Dalam peraturan mentri itu jelas bahwa yang namanya plagiat adalah perbuatan yang melanggar hukum dan ada sanksinya. Karena seorang plagiat itu melakuakan perbuatan yang tidak menyenangkan terhadap yang dijiplaknya itu. Tentunya hal yang dinamakan plagiat ini tidak dibenarkan. Dan hal ini tentunya harus dilakukan penindakan yang tegas. Apalagi dalam suatu karya atau artikel sejarah tentunya hal ini akan menimbulkan suatu hal yang salah. Misalkan seseorang menulis suatu karya sejarah kemudian dijiplak oleh orang lain tanpa mencantumkan sumbernya maka hal ini nantinya akan menimbulkan suatu sikap meragukan mengenai suatu peristiwa sejarah ini karena tidak mencantumkan sumbernya. Hal yang demikian tentunya akan berdampak pada keabsahan dari karya tadi. Sejarah itu harus mencantumkan fakta dan sumber yang sebenarnya dan apabila tidak maka diragukan apakah itu peristiwa yang benar terjadi atau bukan. Sebaiknya kita harus menyikapi dengan tegas betapa tercelanya perbuatan plagiarisme ini maka apakah kita melalukan hal yang demikian itu padahal aturannya sudah jelas bahwa yang namanya plagiarism ini merupakan tindakan melanggar hukum.
    Menurut Helius Sjamsudin (2007) langkah-langkah penelitian sejarah ini mengacu pada proses metode penelitian dalam penelitian sejarah yang mengandung empat langkah, sebagai berikut :
    1. Heuristik
    Heuristik merupakan kegiatan dalam rangka mencari, menemukan dan mengumpulkan data yang digunakan dalam menjawab permasalahan yang akan dibahas.
    2. Kritik
    Kritik Sejarah atau kritik sumber adalah metode untuk menilai sumber yang kita butuhkan untuk mengadakan penilaian sejarah.
    3. Interpretasi
    Interpretasi adalah menafsirkan keterangan dari sumber-sumber sejarah berupa fakta dan data yang terkumpul dengan cara dirangkaikan dan dihubungkan sehingga tercipta penafsiran sumber sejarah yang relevan dengan permasalahan.
    4. Historiografi
    Historiografi adalah proses dalam tahapan penyusunan dan penulisan serta pembahasan terhadap sumber-sumber yang telah diperoleh sehingga dapat menjadi satu kesatuan sejarah yang tersusun dalam bentuk karya tulis dan dapat dikomunikasikan kepada pembaca.
    Jika kita kaitkan kembali pada kedua artikel tadi mengenai sumber tulisan maka kedua artikel tadi tidak bisa dijadikan sebagai sumber dalam penulisan sejarah. Karena dalam metodologi sejarah tahap kedua yaitu kita harus melakukan kritik baik intern maupun ekstern dan saya pikir kedua artikel tadi tidak layak dijadikan sumber sejarah karena dengan tidak dicantumkannya sumber yang valid dan diragukan akan kebenarnya.

  44. September 25, 2011 at 12:24 pm

    Nama : Maman Suherman
    NIM : 1000900

    1. Menurut saya artikel tersebut cukup menarik karena memuat hal-hal yang sebelumnya jarang diketahui banyak orang, namun kurang didukung dengan bukti yang menyakinkan sehingga tingkat kebenarannya patut dipertanyakan, karena bisa saja itu artikel yang dibuat sembarangan untuk mengaburkan fakta-fakta sejarah.
    Serta sumber kedua artikel tersebut berbeda padahal isinya sama, disini terlihat jelas jika artkel tersebut adalah artikel yang hasil copy-paste atau plagiat dari situs yang lain yang lebih dulu memuatnya.
    2. Plagiarisme merupakan tidakan yang dilarang, terutama dibidang pendidikan karena merugikan si penulis adan diri kita sendiri. Merugikan si penulis karena kita menjiplak hasil karyanya tanpa ijin, merugikan diri sendiri karena tanpa sadar kita telah membunuh potensi dalam diri kita untuk membuat artikel yang sebetulnya bisa kita buat meski tak sebagus artikel yang kita copy-paste. Kalaupun harus mengambil sebagian data yang ada haruslah dimuat sumbernya
    3. Langkah pertama dalam penulisan sejarah adalah heuristik atau pengumpulan sumber. Pada tahap ini sumber-sumber yang dikumpulkan haruslah memenuhi syarat dan falid agar bisa digunakan, tentunya kita harus pintar-pintar memilih karena tidak setiap sumber dapat digunakan.
    Untuk kedua artikel tadi, saya kira tidak bisa dipergunakan sebagai bahan rujukan dalam sebuah penulisan sejarah. Ini didasarkan pada beberapa faktor :
    a. Penulis yang tidak jelas latar belakang keilmuannya
    b. Sumber yang tidak jelas datanya didapat dari mana
    c. Metode yang dipergunakan dalam artikel kedua tersebut tidak sesuai dengan kaidah penulisan sejarah
    d. Kedua artikel tersebut merupakan hasil dari plagiarisme

  45. Dinan Afifah Firdaus (0906686)
    September 25, 2011 at 1:37 pm

    Fenomena plagiarisme sudah menjadi iklim yang menyelimuti dunia pendidikan di Indonesia. Dari waktu ke waktu masalah plagiarisme telah berubah bentuk menjadi budaya yang tidak bisa ditinggalkan baik itu sengaja maupun tidak sengaja. Merupakan hal yang sangat tragis ketika individu sudah mengetahui bahwa tindakan plagiarisme adalah tindakan pidana tetapi tidak mempedulikannya. Hingga tenggat ini tindakan plagiarisme dalam dunia pendidikan telah berhasil dengan sukses membobrokan mental bangsa.
    Saya menemukan pengertian dari plagiarisme yang diperoleh dari Kamus Besar Bahasa Indonesia- plagiarisme adalah “penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri”. Dan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiat di perguruan tinggi pada pasal 1 disebutkan bahwa Plagiat adalah “perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh atau kredit nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai”. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 adalah bukti kongkrit yang melarang keras adanya tindakan plagiarism, namun pada kenyatannya peraturan tersebut masih saja tetap dilanggar dengan maraknya artikel atau karya ilmiah yang “tidak bersih”.
    Menanggapi dua artikel sejarah yang telah tersaji nampaknya itu adalah bukti faktual korban plagiarisme. Sebenarnya siapa saja boleh menjadi seorang webmaster atau pengguna web dan bebas menulis artikel sejarah. Namun yang saya perhatikan dari kedua pengguna web tersebut tidak memiliki kreativitas untuk membuat sebuah tulisan, maka dari itu mereka hanya bisa “menjiplak” artikel orang. Sungguh ini perbuatan yang membunuh kreativitas orang lain.
    Sehubungan dengan hal tersebut dalam melakukan Heuristik (salah satu metode sejarah yang artinya mengumpulkan sumber-sumber) kedua artikel tersebut sudah merupakan pengumpulan sumber-sumber. Namun perlu digarisbawahi kedua artikel yang notabene hasil “jiplak” ini perlu di kritik baik itu kritik ekstern maupun intern.
    Dalam menyikapi kasus plagiarisme dalam artikel sejarah- saya selaku mahasiswa pendidikan sejarah, sedikitnya mempunyai dua hal untuk membantu memecahkan masalah tersebut. Pertama, sebagai akademisi tentunya diharuskan untuk mempunyai kemampuan untuk menulis. Kebiasaan menulis-lah membuat individu menjadi lebih kreatif dalam menuangkan pikiran ke dalam sebuah tulisan. Disinilah seorang pengajar harus “memaksa” peserta didik untuk membuat tulisan-tulisan yang sesuai dengan kaidah tanpa menjadi seorang plagiat. Menjadi suatu hal yang tidak sulit jika hal tersebut dilakukan secara terus menerus hingga menjadi sebuah habitual. Ini akan mengubah pola pikir individu yang sebelumnya malas berpikir yang berujung menjiplak menjadi seorang individu yang berpikir kreatif dengan menghasilkan tulisan yang fresh.
    Kedua, sebagai akademisi mahasiswa pendidikan sejarah harus berpikir kritis dengan kedua artikel tersebut. Disini yang lebih berperan adalah salah satu metode sejarah yang disebut Kritik. Helius Sjamsuddin (2007: 131) dalam Metodologi Sejarah menjelaskan bahwa kritik perlu dilakukan pada sumber, baik terhadap bahan materi (ekstern) sumber, maupun terhadap substansi (isi) sumber. Hal ini bertujuan untuk membedakan apa yang benar, apa yang tidak benar (palsu), apa yang mungkin dan apa yang meragukan atau mustahil. Hal ini tentu saja sangat berperan penting dalam mengkritik posisi kedua artikel tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kritik eksternal adalah penulis dan latar belakang penulis. Di kedua artikel tersebut, penulis adalah seorang pelajar SMA dan penulis yang lain tidak diketahui. Dan latar belakang penulisnya pun tidak begitu jelas. Sedangkan dalam kritik internal, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah isi dari kedua artikel tersebut. Saya meragukan isinya, mengingat bahwa kedua artikel yang disajikan tidak lolos dalam kritik eksternal dan penulis tidak mencantumkan sumber-sumber yang dipercaya. Sehingga ada baiknya didampingi oleh sumber-sumber lain seperti buku yang ditulis oleh seorang sejarawan, tulisan-tulisan para ahli, maupun evidensi-evidensi yang berkaitan dengan tema.

    Sumber internet :
    1. http://id.wikipedia.org/wiki/Plagiarisme
    2. http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2010/09/nomor-17-tahun-2010.pdf
    Sumber buku :
    1. Sjamsuddin, Helius. (2007). Metodologi Sejarah. Bandung : Ombak.

  46. erlangga agung putra
    September 25, 2011 at 1:49 pm

    1. Dengan ditemukannya dua artikel yang sama persis ini adalah sebagai bukti bahwa plagiator plagiator sudah tidak takut lagi untuk mencatut hak kekayaan intelektual seseorang untuk dijadikan ide milik nya. Memalukan memang, tetapi inilah kenyataan yang terjadi, Tindakan pencatutan tanpa izin ini adalah sebagai indikasi bahwa kaum intelektual kita malas berpikir dan hanya menginginkan segala sesuatu yang bersifat praktis saja.
    Hal ini nantinya akan menimbulkan dampak yang lebih besar lagi, dimana kita dihadapkan kepada kenyataan, bahwa kaum intelektual, dimana salah satu nya Mahasiswa adalah plagiator yang paling banyak menganut pengambilan ide orang lain tanpa izin ini, miskin ide, malas berpikir, pencuri hak intelektual, kurang pengetahuan, dan tidak mandiri adalah suatu sosok yang mungkin dapat digambarkan pada seorang plagiator, dan fakta membuktikan plagiator paling banyak adalah mahasiswa, yang notabene adalah generasi muda penerus bangsa, penyambung lidah nya rakyat, tetapi jauh dari sana, masih banyak pencuri pencuri ide orang lain untuk kepentingannya sendiri.
    Sebenarnya pemerintah telah melakukan tindakan hukum dengan membuat undang undang yang dapat dijadikan landasan hukum kepada seorang plagiator, tetapi fakta membuktikan bahkan semakin banyak plagiator yang bertebaran. Ini dapat terjadi karena memang tuntutan hukum pada pelaku plagiat memang sangatlah sedikit. Kita sebagai generasi muda penerus bangsa haruslah menjunjung penghargaan setinggi tinggi nya kepada seorang yang telah memberikan ide ide nya dalam bentuk tulisan, jika akan dijadikan bahan karya ilmiah tuliskan sumber yang dapat dijadikan referensi, maka dengan demikian plagiat mungkin akan sedikit berkurang.

    2. Jika plagiarism terjadi dalam artikel sejarah, maka yang saya dapat katakan adalah menyedihkan. Hal ini disebabkan jika melihat bagaimana fakta sejarah dapat terungkap dan bagaimana rumitnya mengungkapkan fakta yang memang tidak tersedia secara lengkap dan begitu saja, banyak yang harus dikuasai sebagai pendukung, banyak yang harus di interpretasi dari keterbatasan sumber yang tersedia, menguji dan mengkaji kebenaran kebenaran rekaman dan menganalisis scara kritis bukti bukti dan data data yang ada menjadi suatu cerita sejarah yang dapat dipercaya, jika kemudian hasil kerja keras ini harus di duplikat, maka hilanglah apresiasi kepada mereka yang tersimpan didalam memori dan hanya sebagian dalam memori itu yang terekam, kemudian dari rekaman itu meninggalkan bekas, hanya sebagian dari bekas itu menarik perhatian sejarawan, dari yang menarik perhatian itu hanya sebagian yang dapat dipercaya, dan yang hanya dari sebagian yang dapat dipercaya itu, kemudian sebagian yang dapat telah bekerja keras untuk mengungkapkan fakta sejarah dengan setajam tajamnya.
    Karena sebagaimana kita ketahui dari kejadian yang sebenarnya di masa lampau hanya sebagian kecil yang terdapat di sumber sejarah, karena tidak semua peristiwa mendapat perhatian dan diteliti, dan hal yang pernah terjadi dimasa lampau memberi informasi, dan dari semua itu hanya sebagian saja yang dapat diterangkan. Maka dapat dibayangkan jika dari serangkaian tahapan tahapan rumit dengan segala keterbatasannya di duplikat oleh seorang untuk kepentingan nya sendiri, hal ini sangat lah memalukan dan sangat tidak menghargai sejarawan yang telah bersusah payah meruntut data sejarah untuk kemudian menjadi cerita sejarah. Maka satu kata yang tepat untuk plagiator adalah tuntutan pidana dengan ganti rugi materi.

    3. Sumber sejarah adalah bahan bahan yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang peristiwa masa lampau. Maka bukti bukti yang menyangkut kehidupan masyarakat masa lampau adalah adalah objek yang dikaji dan disimpulkan oleh sejarawan. Kemudian dari objek yang didapat tadi diteliti melalui tahap heuristic kritik sejarah. Jadi tahap heuristic adalah kegiatan sejarawan untuk mengumpulkan sumber, jejak – jejak sejarah yang diperlukan. Mengingat bahwa sejarah itu terdiri begitu banyak periode dengan segala aspek kehidupan maka kita perrlu mencari sumber yang beraneka ragam. Hal ini dilakukan untuk memudahkan suatu penelitian, sumber – sumber sejarah yang begitu kompleks dan banyak jenisnya

  47. September 25, 2011 at 3:32 pm

    Nama : Yogi Iskandar
    Nim : 1000902
    Pendidikan Sejarah 2010

    1. Setelah saya membaca dan memahami artikel yang menarik ini, tentunya menambah wawasan baru saya mengenai detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan RI, baik dari segi materi maupun hal yang lucu mengenai tingkah laku soekarno sebelum dan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung, mengenai isi dari kedua artikel tersebut sudah baik karena sudah menarik perhatian para pembaca terbukti dari pengunjung web yang mengomentar. Namun hal yang paling disayangkan dari kedua artikel itu, sama sekali tidak ada yang membedakan baik dari segi isi, titik koma, kata-kata, bahkan sampai ke paragrafnya juga sangat mirif sekali. Meskipun ada yang berbeda yaitu mengenai sumber. Bahkan mengenai bahan sumbernya juga penulis mengambil dari internet yang kurang pasti kebenarannya. Tidak perlu di permasalahkan lagi sudah jelas bahwa hal yang demikian itu penulis melakukan plagiarisme atau menyontek alias copy paste.

    2. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa plagiarisme itu merupakan suatu hal yang sangat jelek dan tidak konsisiten sekali, apa lagi sekarang sedang maraknya plagiarisme/menyontek dikalangan pelajar, atau bahkan mungkin juga dikalangan para dosen dalam pembuatan karya ilmiahnya dengan tidak menggunakan metodologi ilmiah dengan sebagaimana mestinya. Solusi yang harus kita ambil sebagai pelajar mengenai masalah plagiarisme kita harus benar-benar dan sungguh-sungguh dalam belajar supaya wawasan kita tambah banyak sehingga kita dalam membuat tulisan karya ilmiah sejarah/karya ilmiah apapun tidak mengandalkan karya orang lain = copy paste. Seseorang yang melakukan plagiarisme dalam sebuah pembuatan karya ilmiah menurut saya itu merupakan sebuah tindakan kriminal karena orang tersebut sudah melakukan pencurian hasil karya orang lain, alias nebeng ketenaran. Dalam menyikapi masalah ini pemerintah harus benar-benar serius dalam menangani maslah plagiarime ini karena menyangkut reputasi masa depan anak-anak bangsa Indonesia.

    3. Hal yang saya pahami langkah pertama mengenai metodologi sejarah adalah heuristik atau pengumpulan data/sumber-sumber sejarah yang betul-betul valid dan otentik
    yang kemudian terbagi data primer dan sekunder, atau juga dengan rekonstruksi imajinatif tentang gambaran masa lampau peristiwa-peristiwa sejarah secara kritis dan analitis berdasarkan bukti-bukti dan data peninggalan masa lampau itu, atau bisa disebut juga dengan mencari jejak-jejak masa lampau. Proses untuk menguji dan mengkaji kebenaran rekaman dan peninggalan-peninggalan masa lampau dengan menganalisis secara kritis bukti-bukti dan data-data yang ada sehingga menjadi penyajian dan cerita sejarah yang dapat dipercaya kebenarannya.
    Posisi keberadaan dari kedua artikel ini bila dilihat dari segi metodologi sejarahnya, sudah jelas bahwa penulis dalam membuat karya ilmiah ini tidak menggunakan sistem metodologis yang seharusnya diterapkan apabila dilihat dari sumbernya yang terbatas dan belum tentu terbukti kebenarannya. Tetapi mengenai isi dari kedua artikel ini menurut saya sudah mencapai metodologisnya karena sudah menunjukan suatu peristiwa yang terbukti kebenarannya seperti proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

  48. September 26, 2011 at 2:53 am

    Nama: Faruq Abdul Aziz
    NIM: 1006288
    Jurusan: Pendidikan Sejarah

    1. Setelah anda cermati kedua artikel tersebut, apa komentar anda?
    Tidak diragukan lagi bahwa kedua artikel tersebut sama persis baik dari kata-katanya, gaya bahasanya, bahkan tanda bacanya pun sama persis. Saya menarik kesimpulan bahwa salah satu atau kedua artikel tersebut adalah hasil copy-paste tanpa menambah atau mengurangi walau hanya satu huruf.
    2. Bagaimana anda menyikapi persoalan plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah?
    Sikap saya dalam menyikapi masalah plagiarisme adalah berusaha semaksimal mungkin agar artikel atau karya tulis yang saya buat adalah orisinal dan mencantumkan setiap sumber yang diambil sehingga artikel atau karya tulis yang saya buat tidak mengandung unsur plagiarisme, dan berusaha menumbuhkan kesadaran tidak melakukan plagiarisme dengan cara mengajak kawan-kawan agar tidak membuat artikel atau karya tulis dengan metode copy-paste.
    3. Apa yang anda pahami mengenai metodologi sejarah langkah pertama? dan bagaimana posisi keberadaan kedua artikel ini bila dilihat dari metodologi sejarah?
    Metodologi sejarah langkah pertama adalah heuristik. Yang saha ketahui heuristik adalah pencarian sumber sejarah baik itu merupakan sumber lisan yaitu sumber yang bisa didapat dari manusia yang merupakan pelaku atau saksi primer dengan cara wawancara, sumber tulisan yang bisa didapat dari arsip, perpustakaan, koran dll, maupun sumber benda yang dapat diperoleh dari museum dan harus dianalisis. Kedua artikel tersebut merupakan sumber tertulis yang terdapat di internet. Menurut saya kedua artikel tersebut kurang bagus untuk dijadikan sebagai sumber sejarah, karena sumber yang dicantumkan oleh kedua artikel bukan sumber yang resmi dan mengkhususkan diri di bidang sejarah.

  49. September 26, 2011 at 3:26 am

    Nama : Anny Wahyuni
    Nim: 0806582
    1. Membaca kedua artikel itu saya menaraik kesimpulan bahwa kedua artikel itu persis sama. Mungkin orang yang membuat artikel itu tidak mengerti tentang plagiarisme sehingga dia dengan senang hati mengkopi sedikit sedikit dari tulisan orang lain dan menjadikan itu artikelnya. Jujur saya juga baru tahu mengkopi beberapa kata saja itu sudah termausk plagiarism dan saya baru menyadari kalau selama ini saya membuat tugas banyak yang plagiarisme yang tidak di sengaja.
    2. Saya dalam menyikapi plagiarisme ini di butuhkan kesadaran pada masing-masing individu bahwa melakukan plagiarism itu sama saja dengan penipuan dan ada sanksi hukumnya. Mnumbuhkan kepercayaan kepada individu bahwa hasil pikiran mereka itu lebih bagus dari pada hasil pikiran orang lain dan di klaim menjadi punya mereka. Biasanya yang sering melakukan plagiarism ini mahasiswa untuk tugas karena biasanya mereka berfikiran tugas itu tidak atau jarang di periksa dosen dehingga mereka dnegan seenaknya melakukan plagiarism.
    3. Heuristic adalah mencari dan mengumpulkan data-data untuk menegtahui perstiwa dan jejak sejarah masa lampau. Artiel bias di jadikan sumber tapi bukan dnegan cara mengkopinya atau plagiarisme tapi kita berusaha mengambil intisari dari artikel itu dan mengambil kesimpulannya

  50. September 26, 2011 at 4:53 am

    Nama : Pipit Maysyaroh
    NIM : 1001893

    1. Secara keseluruhan, isi dari kedua artikel yang berada pada blog berbeda ini mirip sekali. Tidak terdapat perbedaan sama sekali pada isi. Tapi sumber yang masing-masing dicantumkan oleh penulis berbeda sama sekali.
    2. Budaya plagiarisme bukanlah hal yang baru dalam dunia penulisan. Terlebih saat ini, media yang ada, yang seharusnya memudahkan dalam proses penulisan tersebut, justru menjadi alat yang sangat membantu dalam plagiarisme ini. Setiap orang dengan mudah menghasilkan tulisan yang menurut beberapa orang yang membacanya adalah tulisan yang murni ditulis oleh orang yang mencantumkan namanya pada karya tersebut dalam beberapa menit. Plagiarisme pada berbagai bidang, tidak hanya pada penulisan artikel sejarah, merupakan sebuah tindakan yang tercela. Dan sayangnya, hal ini diikuti atau dilakukan oleh salah satu penulis artikel yang merupakan seorang siswi Sekolah Menengah Atas. Plagiarisme pada penulisan artikel sejarah, seperti yang terjadi pada bidang-bidang yang lain atau kedua artikel tersebut, merupakan hal yang sama sekali tidak baik. Dengan mengakui karya orang lain sebagai karya sendiri, maka secara tidak langsung dia meremehkan atau memandang sebelah mata atas apa yang dilakukan oleh penulis asli yang melakukan proses hingga akhirnya menghasilkan sebuah karya tulisan. Artinya dia mencuri buah pemikiran dari penulis asli yang telah melakukan metodelogi sejarah dari tahap pertama hingga akhir. Dan plagiator tersebut tidak menghargai proses yang dilakukan oleh penulis asli.
    3. Tahap pertama pada metodologi penelitian sejarah merupakan heuristik, yaitu pengumpulan dan kritik sumber. Pada tahap ini peneliti mencari sumber-sumber mengenai hal yang akan dia angkat dalam penelitiannya. Setelah mengumpulakan data-data atau sumber yang dibutuhkan, maka peneliti harus menilai atau mengkritik terhadap sumber yang dia dapatkan. Baik itu kritik internal maupun eksternal. Kritik internal meliputi isi dari sumber atau data tersebut. Sedangkan kritik eksternal meliputi hal lainnya selain dari isi. Contohnya ketika seorang peneliti mendapatkan sumber berupa sebuah catatan, maka dia harus mengkritik dari isi catatan tersebut. Apakah catatan tersebut sesuai dengan apa yang dia cari dan apakah isi dari catatan tersebut sesuai dengan fakta yang ada? Ketika dia harus melakukan kritik eksternal maka dia melakukan kritik atau penilaian pada kertas yang digunakan sebagai catatan tersebut dan latar belakang dari penulis catatan tersebut.
    Mungkin pemilik blog yang mencantumkan artikel tersebut pada blog mereka masing-masing merasa telah mendapatkan apa yang mereka cari, yaitu tentang keunikan-keunikan seputar kemerdekaan. Tapi pada tahap kritik sejarah, mereka mengabaikan hal tersebut. Terbukti pada sumber yang mereka cantumkan itu sangat berbeda. Tapi isi dari artikel tersebut persis sama. Dan kedua artikel tersebut sepertinya saat mendapatkan data tersebut, dia mencaplok secara keseluruhan dan menempelkan langsung artikel tersebut. Dan kedua artikel itu dipertanyakan dalam hal keabsahannya.

  51. September 26, 2011 at 5:30 am

    Nama : Sarah Windika
    Nim : 1001450
    Pendidikan Sejarah / Kelas E

    maaf sebelumnya ibu, saya ingin melengkapi jawaban saya sebelumnya.

    1. Setelah anda cermati kedua artikel tersebut, apa komentar anda?
    Jawaban : Setelah saya membaca dan memahami kedua artikel ini sangat tidak begitu beda jauh, artikel yang bagus dan membuat kita menarik untuk membaca dan mempelajarinya membuat kita ingat akan pengorbanan para pahlawan ketika memerdekaannya negara Indonesia ini. Artikel yang membuat bangsa kita untuk lebih bangga akan kemerdekaan negara kita.

    2. Bagaimana anda menyikapi persoalan plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah?
    Jawaban : Karya tulis yang sangat rapih dengan kata-katanya dan bagus akan sumber bahasannya menguatkan untuk menciptakan karya tulis ini. Plagiarisme akan penulisan karya tulis harus lebih menarik agar semua orang menarik untuk membaca, mengkaji dan mengetahui akan karya tulis yang dibuat. Persoalan Plagiarisme yang bisa menciptakan karya tulis yang baik dan benar.

    3. Apa yang anda pahami mengenai metodologi sejarah langkah pertama? dan bagaimana posisi keberadaan kedua artikel ini bila dilihat dari metodologi sejarah?
    Jawaban : Langkah pertama dalam metodologi sejarah yaitu Heuristik, heuristic sendiri adalah tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan topik atau judul penelitian. heuristik adalah suatu teknik, mencari dan mengumpulkan sumber. Dengan demikian heuristik adalah kegiatan mencari dan mengumpulkan sumber. Dalam hubungan penelitian, peneliti mengumpulkan sumber-sumber yang merupakan jejak sejarah atau peristiwa sejarah. Jadi, kedua artikel ini belum bisa dijadikan sumber sejarah, karena fakta yang ada belum sesuai dengan apa yang kita tahu selama ini. Sumber yang belum bisa menguatkan akan kenyataan yang ada, sumber yang pasti dan cerita yang fakta yang bisa membuat kita percaya akan cerita yang ada di kedua artikel tersebut.

  52. September 26, 2011 at 1:40 pm

    Nama : Aldion Ariatama Ginting
    NIM : 1005473
    Pendidikan Sejarah “E”

    1. Kedua artikel tersebut ketika saya baca dan saya bandingkan ternyata memiliki tingkat kesamaan yang mencapai 100%. Dilihat dari pemilihan kata – kata sampai terciptanya kedua artikel tersebut ternyata sangat persis dan tidak ada beda diantara keduanya. Disini yang membedakan hanya alamat blog dan pemilik / admin dari blog tersebut. Hal ini menimbulkan kecenderungan adanya tindakan plagiarisme atau pengcopy-pastean di dalam sebuah penulisan sumber sejarah karena postingan di kedua blog tersebut persis sama.
    2. Memang sangat ironis ketika kita melihat adanya plagiarisme dalam penulisan artikel – artikel tentang sumber sejarah. Sumber – sumber dalam penulisan sejarah yang “seharusnya” tidak usah diragukan lagi keasliannya, kini mulai dipertanyakan. Dengan melihat fenomena seperti demikian, apakah masih perlu pengumpulan sumber – sumber sejarah yang termasuk dalam tahapan Heuristik berasal dari internet? Hal ini membuktikan bahwa kecanggihan Teknologi Informasi dan Komunikasi sangat memudahkan sekali dan membantu dalam mengumpulkan sumber – sumber tulisan mengenai kesejarahan. Akan tetapi salah satu dampak negatifnya yaitu cenderung menciptakan terjadinya plagiarisme yang membuat sebuah kutipan, ataupun sumber yang berasal dari Internet itu kurang jelas asal – usulnya dan diragukan keabsahan atau keasliannya. Memang, sesungguhnya peranan internet sangat memberikan dampak positif kepada setiap individu untuk mencari informasi, memberi informasi, membuat suatu karya, dan menyambungkan antara individu yang satu dengan individu lainnya bisa dalam waktu yang bersamaan. Bila dikaitkan dengan manfaat internet sebagai media pembantu dalam pencarian sumber kesejarahan, sebenarnya hal ini sangat baik, namun adakalanya seseorang harus bersikap selektif dalam memilih dan memindai sumber – sumber yang berasal dari dunia maya. Karena keaslian sumber yang dipostingkan ke dunia maya itu masih belum jelas dan patut dipertanyakan. Tidak hanya ahli sejarah saja, orang – orang lainnya yang sehari – hari biasa bergelut diluar ruang lingkup kajian sejarahpun dengan sangat mudahnya bisa membuat tulisan ataupun artikel bertemakan sejarah dan yang menyangkut kesejarahan. Tentu saja dalam konteks ini membutuhkan kejelian kita dalam menyeleksi sumber – sumber apa saja yang akan kita akses. Karena tidak menutup kemungkinan ditemukan sumber yang melenceng dari fakta sejarah. Tentunya dalam pencarian sumber – sumber dari dunia maya / internet, diperlukan sumber pembanding yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, seperti buku – buku teks / sumber sejarah, e-book yang membahas tentang tema yang akan dikaji, artikel atau jurnal – jurnal kesejarahan yang mungkin dapat kita akses dengan mudah di tempat – tempat lainnya, seperti perpustakaan, toko buku, dan lain – lain.
    3. Sumber sejarah ialah bahan – bahan yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau (Ismaun, 2005:35). Tentang sumber sejarah, Nugroho Notosusanto (1978:36) telah mengklasifikasikannya ke dalam tiga bentuk yang sederhana yakni: (1) Sumber benda; menyangkut benda – benda arkeologis, efigrafi, numistik, dan benda sejenis lainnya; (2) Sumber tertulis, terdiri dari buku-buku dan dokumen; (3) Sumber lisan, terdiri dari hasil wawancara dan tradisi lisan (oral tradition). Hasil pengerjaan studi sejarah yang akademis atau kritis memerlukan fakta-fakta yang telah teruji. Hal ini tentunya tidak lepas dari peranan langkah pertama dalam metodologi sejarah yaitu proses pengumpulan sumber atau heuristik. Ada beberapa teknik pengumpulan data yang dapat dipergunakan dalam metode sejarah, seperti: studi kepustakaan, pengamatan lapangan (terjun langsung ke objek / daerah yang akan diteliti), wawancara (interview) yang biasanya digunakan dalam mengkaji sejarah lisan / oral history. Dalam kasus kedua artikel ini, memang kita tidak mengetahui artikel mana yang mengcopy dan yang di copy. Tetapi satu hal yang menurut saya harus digaris bawahi yaitu minimnya kreativitas dari pembuat blog tersebut dalam menghadirkan satu tulisan tentang kesejarahan dan mengabaikan hal – hal yang sangat vital seperti pencantuman sumber referensi yang relevan, kutipan – kutipan yang sangat minim, serta penggunaan bahasa yang tidak baku dalam artikel tersebut. Menurut saya mungkin salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi karena minimnya sumber yang didapatkan penulis, serta kesulitan yang dihadapi oleh penulis dalam mengungkapkan sebuah fakta sejarah itu sendiri, sehingga menghasilkan tulisan seperti demikian dan menyebabkan timbulnya plagiarisme yang pelaksanaannya sangat mudah dan sangat kompleks terjadi di dunia maya / internet yang disebabkan oleh kemajuan IPTEK yang semakin pesat hingga saat ini.

  53. September 26, 2011 at 2:10 pm

    Nama : Hendi Antopani
    NIM : 1005753
    Jurusan : Pendidikan Sejarah (E)
    1. Anggapan saya selama ini tentang sumber referensi dari Internet, bisa dijadiakan sebagai bahan rujukan untuk penulisan karya ilmiah. Meski tidak untuk sumber referensi utama. Ketika sumber itu telah dicantumlkan, Berarti saya mempercayai keabsahan dari sumber itu.

    Dengan adanya petunjuk pembelajaran seperti ini, saya merasa terbangunkan dari kelesuan – kelesuan berpikir dalam mencari sumber. Ternyata tidak mudah mencari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kemiripan antara kedua tulisan itu, membuat saya tergelitik untuk lebih hati – hati dalam mengutip dan mencantumkan sumber. Saya takut besok lusa apa yang telah saya tulis dibaca orang lain dan menjadi kesalahan yang berkepanjangan. Semoga tidak terlulang….

    2. Bagi saya sendiri, setelah melihat kedua artikel ini saya akan lebih berhati – hati, mencantumkan sumber referensi. Sumber dari internet masih bisa digunakan, namun posisi buku (hard copy) dalam penulisan karya ilmiah, tetap harus menjadi rujukan utama. Nama penulis yang dibuat berkesan sedemikian rupa dan meyakinkan, tidak bisa menjadi jaminan, isi dari tulisan itu dapat dipertanggungjawabkan.

    3. Heuristik merupakan pekerjaan pertama yang menentukan kualitas dan keabsahan dari rangkaian langkah seorang sejarahwan. Ketika dalam heuristik salah dan keliru, salah pula langkah langkah berikutnya. Maka heuristik memiliki peranan terpenting dalam metode penelitien sejarah.

    Dalam hal ini, kedua sumber artikel itu sangat meragukan. Mereka tidak mencantumkan sumber yang sesuai. Di cek ulang ternyata alamat yang dicantumkan oleh penulis, tidak ada tulisan tentang itu. Ketika langkah heuristik dilakukan pada kedua tulisan ini, maka tidak layak dijadiakan sumber.

  54. Aldion Ariatama Ginting
    September 26, 2011 at 2:35 pm

    Nama : Aldion Ariatama Ginting
    NIM : 1005473
    Pendidikan Sejarah / E

    1. Kedua artikel tersebut ketika saya baca dan saya bandingkan ternyata memiliki tingkat kesamaan yang mencapai 100%. Dilihat dari pemilihan kata – kata sampai terciptanya kedua artikel tersebut ternyata sangat persis dan tidak ada beda diantara keduanya. Disini yang membedakan hanya alamat blog dan pemilik / admin dari blog tersebut. Hal ini menimbulkan kecenderungan adanya tindakan plagiarisme atau pengcopy-pastean di dalam sebuah penulisan sumber sejarah karena postingan di kedua blog tersebut persis sama.

    2. Memang sangat ironis ketika kita melihat adanya plagiarisme dalam penulisan artikel – artikel tentang sumber sejarah. Sumber – sumber dalam penulisan sejarah yang “seharusnya” tidak usah diragukan lagi keasliannya, kini mulai dipertanyakan. Dengan melihat fenomena seperti demikian, apakah masih perlu pengumpulan sumber – sumber sejarah yang termasuk dalam tahapan Heuristik berasal dari internet? Hal ini membuktikan bahwa kecanggihan Teknologi Informasi dan Komunikasi sangat memudahkan sekali dan membantu dalam mengumpulkan sumber – sumber tulisan mengenai kesejarahan. Akan tetapi salah satu dampak negatifnya yaitu cenderung menciptakan terjadinya plagiarisme yang membuat sebuah kutipan, ataupun sumber yang berasal dari Internet itu kurang jelas asal – usulnya dan diragukan keabsahan atau keasliannya. Memang, sesungguhnya peranan internet sangat memberikan dampak positif kepada setiap individu untuk mencari informasi, memberi informasi, membuat suatu karya, dan menyambungkan antara individu yang satu dengan individu lainnya bisa dalam waktu yang bersamaan. Bila dikaitkan dengan manfaat internet sebagai media pembantu dalam pencarian sumber kesejarahan, sebenarnya hal ini sangat baik, namun adakalanya seseorang harus bersikap selektif dalam memilih dan memindai sumber – sumber yang berasal dari dunia maya. Karena keaslian sumber yang dipostingkan ke dunia maya itu masih belum jelas dan patut dipertanyakan. Tidak hanya ahli sejarah saja, orang – orang lainnya yang sehari – hari biasa bergelut diluar ruang lingkup kajian sejarahpun dengan sangat mudahnya bisa membuat tulisan ataupun artikel bertemakan sejarah dan yang menyangkut kesejarahan. Tentu saja dalam konteks ini membutuhkan kejelian kita dalam menyeleksi sumber – sumber apa saja yang akan kita akses. Karena tidak menutup kemungkinan ditemukan sumber yang melenceng dari fakta sejarah. Tentunya dalam pencarian sumber – sumber dari dunia maya / internet, diperlukan sumber pembanding yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, seperti buku – buku teks / sumber sejarah, e-book yang membahas tentang tema yang akan dikaji, artikel atau jurnal – jurnal kesejarahan yang mungkin dapat kita akses dengan mudah di tempat – tempat lainnya, seperti perpustakaan, toko buku, dan lain – lain.

    3. Sumber sejarah ialah bahan – bahan yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau (Ismaun, 2005:35). Tentang sumber sejarah, Nugroho Notosusanto (1978:36) telah mengklasifikasikannya ke dalam tiga bentuk yang sederhana yakni: (1) Sumber benda; menyangkut benda – benda arkeologis, efigrafi, numistik, dan benda sejenis lainnya; (2) Sumber tertulis, terdiri dari buku-buku dan dokumen; (3) Sumber lisan, terdiri dari hasil wawancara dan tradisi lisan (oral tradition). Hasil pengerjaan studi sejarah yang akademis atau kritis memerlukan fakta-fakta yang telah teruji. Hal ini tentunya tidak lepas dari peranan langkah pertama dalam metodologi sejarah yaitu proses pengumpulan sumber atau heuristik. Ada beberapa teknik pengumpulan data yang dapat dipergunakan dalam metode sejarah, seperti: studi kepustakaan, pengamatan lapangan (terjun langsung ke objek / daerah yang akan diteliti), wawancara (interview) yang biasanya digunakan dalam mengkaji sejarah lisan / oral history. Dalam kasus kedua artikel ini, memang kita tidak mengetahui artikel mana yang mengcopy dan yang di copy. Tetapi satu hal yang menurut saya harus digaris bawahi yaitu minimnya kreativitas dari pembuat blog tersebut dalam menghadirkan satu tulisan tentang kesejarahan dan mengabaikan hal – hal yang sangat vital seperti pencantuman sumber referensi yang relevan, kutipan – kutipan yang sangat minim, serta penggunaan bahasa yang tidak baku dalam artikel tersebut. Menurut saya mungkin salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi karena minimnya sumber yang didapatkan penulis, serta kesulitan yang dihadapi oleh penulis dalam mengungkapkan sebuah fakta sejarah itu sendiri, sehingga menghasilkan tulisan seperti demikian dan menyebabkan timbulnya plagiarisme yang pelaksanaannya sangat mudah dan sangat kompleks terjadi di dunia maya / internet yang disebabkan oleh kemajuan IPTEK yang semakin pesat hingga saat ini.

  55. September 26, 2011 at 2:37 pm

    Erlangga Agung Putra
    1002035
    Pendidikan Sejarah
    1. Dengan ditemukannya dua artikel yang sama persis ini adalah sebagai bukti bahwa plagiator plagiator sudah tidak takut lagi untuk mencatut hak kekayaan intelektual seseorang untuk dijadikan ide milik nya. Memalukan memang, tetapi inilah kenyataan yang terjadi, Tindakan pencatutan tanpa izin ini adalah sebagai indikasi bahwa kaum intelektual kita malas berpikir dan hanya menginginkan segala sesuatu yang bersifat praktis saja.
    Hal ini nantinya akan menimbulkan dampak yang lebih besar lagi, dimana kita dihadapkan kepada kenyataan, bahwa kaum intelektual, dimana salah satu nya Mahasiswa adalah plagiator yang paling banyak menganut pengambilan ide orang lain tanpa izin ini, miskin ide, malas berpikir, pencuri hak intelektual, kurang pengetahuan, dan tidak mandiri adalah suatu sosok yang mungkin dapat digambarkan pada seorang plagiator, dan fakta membuktikan plagiator paling banyak adalah mahasiswa, yang notabene adalah generasi muda penerus bangsa, penyambung lidah nya rakyat, tetapi jauh dari sana, masih banyak pencuri pencuri ide orang lain untuk kepentingannya sendiri.
    Sebenarnya pemerintah telah melakukan tindakan hukum dengan membuat undang undang yang dapat dijadikan landasan hukum kepada seorang plagiator, tetapi fakta membuktikan bahkan semakin banyak plagiator yang bertebaran. Ini dapat terjadi karena memang tuntutan hukum pada pelaku plagiat memang sangatlah sedikit. Kita sebagai generasi muda penerus bangsa haruslah menjunjung penghargaan setinggi tinggi nya kepada seorang yang telah memberikan ide ide nya dalam bentuk tulisan, jika akan dijadikan bahan karya ilmiah tuliskan sumber yang dapat dijadikan referensi, maka dengan demikian plagiat mungkin akan sedikit berkurang.

    2. Jika plagiarism terjadi dalam artikel sejarah, maka yang saya dapat katakan adalah menyedihkan. Hal ini disebabkan jika melihat bagaimana fakta sejarah dapat terungkap dan bagaimana rumitnya mengungkapkan fakta yang memang tidak tersedia secara lengkap dan begitu saja, banyak yang harus dikuasai sebagai pendukung, banyak yang harus di interpretasi dari keterbatasan sumber yang tersedia, menguji dan mengkaji kebenaran kebenaran rekaman dan menganalisis scara kritis bukti bukti dan data data yang ada menjadi suatu cerita sejarah yang dapat dipercaya, jika kemudian hasil kerja keras ini harus di duplikat, maka hilanglah apresiasi kepada mereka yang tersimpan didalam memori dan hanya sebagian dalam memori itu yang terekam, kemudian dari rekaman itu meninggalkan bekas, hanya sebagian dari bekas itu menarik perhatian sejarawan, dari yang menarik perhatian itu hanya sebagian yang dapat dipercaya, dan yang hanya dari sebagian yang dapat dipercaya itu, kemudian sebagian yang dapat telah bekerja keras untuk mengungkapkan fakta sejarah dengan setajam tajamnya.
    Karena sebagaimana kita ketahui dari kejadian yang sebenarnya di masa lampau hanya sebagian kecil yang terdapat di sumber sejarah, karena tidak semua peristiwa mendapat perhatian dan diteliti, dan hal yang pernah terjadi dimasa lampau memberi informasi, dan dari semua itu hanya sebagian saja yang dapat diterangkan. Maka dapat dibayangkan jika dari serangkaian tahapan tahapan rumit dengan segala keterbatasannya di duplikat oleh seorang untuk kepentingan nya sendiri, hal ini sangat lah memalukan dan sangat tidak menghargai sejarawan yang telah bersusah payah meruntut data sejarah untuk kemudian menjadi cerita sejarah. Maka satu kata yang tepat untuk plagiator adalah tuntutan pidana dengan ganti rugi materi.

    3. Sumber sejarah adalah bahan bahan yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang peristiwa masa lampau. Maka bukti bukti yang menyangkut kehidupan masyarakat masa lampau adalah adalah objek yang dikaji dan disimpulkan oleh sejarawan. Kemudian dari objek yang didapat tadi diteliti melalui tahap heuristic kritik sejarah. Jadi tahap heuristic adalah kegiatan sejarawan untuk mengumpulkan sumber, jejak – jejak sejarah yang diperlukan. Mengingat bahwa sejarah itu terdiri begitu banyak periode dengan segala aspek kehidupan maka kita perrlu mencari sumber yang beraneka ragam. Hal ini dilakukan untuk memudahkan suatu penelitian, sumber – sumber sejarah yang begitu kompleks dan banyak jenisnya

  56. Gunawan
    September 26, 2011 at 4:11 pm

    Nama: Gunawan
    NIM: 1005529

    1. Setelah anda cermati kedua artikel tersebut, apa komentar anda? Jawaban: Komentar saya mengenai dua artikel tadi adalah bahwa kedua artikel tadi adalah artikel yang sama namun dipublish dengan judul dan blog yang berbeda. Saya sendiri sering menemukan banyak artikel yang sama yang dipublish dalam blog yang berbeda. Sangat mungkin artikel ini berasal dari satu blog dan di copy paste oleh beberapa orang yang memiliki blog dengan alasan bahwa artikel ini menarik dan layak untuk dipublish dalam blognya.

    2. Bagaimana anda menyikapi persoalan plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah? Jawaban: Selama ini mungkin belum ada yang terlalu menanggapi mengenai hal plagiarisme ini. Namun seperti biasa walau undang-undangnya ada namun sosialisasi mengenai undang-undang ini sepertinya kurang. Setelah dibacakannya undang-undang mengenai plagiat di dalam lingkup pendidikan, sepertinya memang semuanya sudah dirancang dengan baik, termasuk sanksinya. Namun dalam kenyataan sulit sekali untuk melacak dan menindak kasus seperti ini. Terutama jika artikel sejarah dicopy paste seperti artikel di atas. Semua kalangan pun tahu bahwa dunia maya orang cenderung lebih bebas dalam beraspirasi, termasuk meramaikan blog miliknya dengan artikel serupa hasil copy paste dari blog lain. Saran saya, tentu semuanya harus dimulai secara bertahap. Yang pertama perlu sosialisasi mengenai undang-undang plagiat pada para mahasiswa, sehingga mahasiswa tahu dan paham bahwa orisinalitas dan hak cipta pun dijunjung tinggi dalam dunia pendidikan. Yang kedua dosen harus memiliki ketajaman dalam menganalisa tugas karya ilmiah mahasiswanya, seperti dengan diharuskannya mencantumkan sumber, dan ada pernyataan mengenai keorisinalitasan karya ilmiahnya.

    3. Apa yang anda pahami mengenai metodologi sejarah langkah pertama? dan bagaimana posisi keberadaan kedua artikel ini bila dilihat dari metodologi sejarah? Jawaban: Dalam metodologi sejarah, langkah pertama adalah tahapan heuristik. Heuristik adalah tahapan di mana kita mencari sumber dan menyeleksinya, apakah layak atau tidak dijadikan sumber. Sebenarnya saya melihat ada beberapa bagian dalam artikel tadi yang dapat diuji kebenarannya, walau ada juga yang masih diragukan. Saya hanya pernah membaca tiga kisah dalam artikel tadi yang dapat diuji kebenarannya. Dua kisah berasal dari buku karangan Roso Daras yang sangat mengidolakan Bung Karno. Sayangnya saya lupa judulnya, mungkin saat kuliah bukunya akan saya bawa sebagai bukti. Dua kisah dalam buku ini yang ada dalam artikel di atas adalah kisah pertama mengenai sakitnya Bung Karno sebelum membacakan Proklamasi Kemerdekaan dan kisah mengenai pertemuan Bung Karno dengan Marlyn Monroe yang menyebutnya Prince Soekarno. Sedangkan kisah lainnya adalah kisah “mandinya” Soekarno dan Hatta dengan air kencing saat pulang dari Dalat. Kisah ini terdapat dalam Biografi Bung Hatta. Untuk kisah lain mengenai sate dan permintaan Hatta mengenai proklamator yang lebih dari dua itu pernah saya baca di artikel lain. Kesimpulannya, menelan mentah-mentah artikel ini bahkan menjadikan artikel ini sebagai sumber sepertinya kurang tepat. Perlu dilakukannya kritik lebih jauh mengenai artikel ini.

  57. September 29, 2011 at 2:36 pm

    Nama : Hadar Suhendar
    Nim : 1000904
    Jurs : Pendidikan Sejarah

    1. Setelah dilihat dari kedua artikel ini membahas hal yang sama dan bahasa yang sama serta menggunakan bahasa tidak baku seakan–akan peristiwa itu dianggap main-main saja, padahal peristiwa tersebut merupakan hal yang terpenting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
    Dari kedua artikel tersebut tidak mencerminkan daya juang atau semangat bagi pembaca sehingga sekilas artikel ini hanya bacaan biasa tanpa nilai-nilai semangat juang.

    2. Plagiarisme atau dalam bahasa awam adalah pekerjaan menjiplak atau menyadur suatu karya ilmiah dan menjadikannya seolah-olah sebagai suatu hasil karyanya sendiri, merupakan sikap yang jelek dimana seseorang yang melakukan hal tersebut merupakan termasuk (criminal academic). Lakukan analisis dan kritik sumber terhadap karya ilmiah yang dibuat.

    3. Proses aktualisasi internal sebuah peristiwa sejarah di masa lampau dilakukan melalui beberapa pendekatan, dalam hal ini adalah pendekatan dalam teori dan metodologinya. Ada beberapa jenis pendekatan yang digunakan oleh sejarawan dalam melakukan rekonstruksi sejarah, setidaknya ada tujuh point teori yang menghiasi cara kerja sang sejarawan dalam proses rekonstruksi.
    Positivisme
    Positivisme diperkenalkan oleh Auguste Comte (1798-1857) dengan karya terkenalnya, Cours de Philosophie Positive, yaitu “kursus tentang filsafat positif” (1830-1842). Positivisme menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.
    Hermeneutika
    Hermeneutika merupakan metode tafsir yang berasal dari Yunani dan berkembang pesat sebagai metode intepretasi Bibel. Hermeneutika adalah sebuah metode interpretasi yang hidup dalam tradisi Nasrani yang kemudian menumbuhkan tradisi Barat sekuler-liberal setelah abad 16 dan 17. Dalam pengertian ini, hermeneutika bukanlah isi penafsiran, hermeneutika lebih menyinggung soal metodenya. Perbedaan antara penafsiran aktual (exegesis) dan aturan-aturan, metode dan teori yang mengaturnya (hermeneutika) sudah sejak lama disadari,ada baik dalam refleksi teologis, maupun refleksi non teologis.
    Strukturalisme
    Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Teori ini adalah jenis pendekatan social dalam memahami setiap gejala sejarah.
    Asumsi dasar dalam teori strukturalisme adalah ada angapan bahwa upacara-upacara, sistem-sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian dan sebagianya, secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasa-bahasa (Lane; 1970; 13-14 Ahimsya; 66).

    Selanjutnya para penganut strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal, yaitu kemampuan untuk structuring, untuk menstruktur, menyususun suatu struktur, atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar.
    Semua pendekatan itu dilakukan secara procedural analitik. Diperlukan sebuah ketelitian dan ketekunan ketika kita menggunakan sebuah teori. Argumentasi yang jelas mengenai penyebab terjadinya suatu peristiwa sejarah bisa memberikan nilai tambah bagi sang sejarawan. Dalam rekonstruksi sejarah, peran dan fungsi sejarah terklasifikasikan menjadi tiga jenis, yakni:
    1. Sejarah sebagai sebuah sistem
    2. Sejarah sebagai kesatuan unit
    3. Sejarah nasional sebagai unit global
    Sebagaimana dikemukakan oleh Benedetto Croce, setiap sejarah yang benar adalah sejarah yang faktual dan aktual, dalam artian sejarah yang benar adalah sejarah masa kini yang telah mengalami rekonstruksi internal sang sejarawan. Hal ini sejalan dengan orientasi kajian teori dan metodologi sejarah dalam disiplin ilmu sejarah, yakni kebenaran pengetahuan mengenai peristiwa sejarah di masa lampau sang sejarawan atas dasar explanasi atau penjelasan sejarah yang selanjutnya bisa menghasilkan cabang-cabang dalam kajian sejarah sebagai sebuah sebuah ilmu. (http://initialdastroboy.wordpress.com/2011/03/30/teori-dan-metodologi-sejarah-rekonstruksi-peristiwa-sejarah/)
    Adapun tahapan dalam penelitian dalam metodologi sejarah
    1. Heuristik
    2. Kritik Sumber
    3. Interpretasi
    4. Historiografi

    Ketika seorang sejarawan telah mampu melaksanakan metodologi dalam sejarah dengan baik maka kita lihat hasil dari keabsahan karya ilmiahnya apakah telah sesuai dengan apa yang ditulis dengan fakta yang terjadi. Karena menurut Benedetto Croce, setiap sejarah yang benar adalah sejarah yang faktual dan aktual, dalam artian sejarah yang benar adalah sejarah masa kini yang telah mengalami rekonstruksi internal sang sejarawan.

  58. October 6, 2011 at 12:36 pm

    Nama : Rendi Rudiana
    NIM : 0704086
    TIK Dalam pembelajaran Sejarah

    1. Respon saya terhadap kedua artikel tersebut mungkin hampir sama dengan sebagian besar teman-teman diatas, yaitu yang menyatakan bahwa terdapat kasus plagiarisme dalam pembuatan dua artikel tersebut hal ini dikarenakan terdapat kesamaan isi dan konten artikel tersebut. selain itu hal ini didukung pula dengan perbedaan waktu pembuatan artikel ini. disini terdapat selisih 2 taun antar pembuatan atau pemostingan artikel keduanya, sehingga wajarlah kita semua berpendapat bahwa artikel kedua lah yang mengcoppy paste artikel pertama karena waktunya yang lebih baru dipostingkan. tetapi tanpa tahu niat awal dari penulis,maka asumsi dasar pembaca pastilah mengenai plagitisme ini. Tetapi jika melihat dari sisi positifnya bisa saja si penulis yang kedua tersebut bermaksud memperbaharui kembali artikel tersebut melalui blog pribadinya tetapi tetap saja disebut plagiat karena ternyata ia mencantumkan nama nya dalam artikel tersebut sehingga seolah-olah artikel tersebut hak cipta miliknya. jika hal tersebut memang lah sebuah plagiarisme yang sengaja dilakukan oleh seorang oknum maka tentu lah harus diberi tindakan dan diberi sanksi yang sesuai. dalam sebuah karya sejarah tentulah dituntuk keabsahan dan keotentikannya.

    2. Berbicara mengenai plagiarisme dalam karya (artikel) sejarah tentulah bukan merupakan hal yang tabu dewasa ini, karena sudah banyak saya temukan artikel-artikel sejarah yang serupa dan sejenis, banyak faktor yang dapat mendukung terjadinya plagiarisme dalam hal karya tulis ini, bisa karena keadaan yang terdesak, bisa karena memang sengaja dilakukan karena sesuatu dan lain hal, bisa juga karena faktor perkembangan teknologi sekarang ini yang sudah maju pesat atau bahkan karena di Indonesia belum ada penanganan yang jelas mengenai kasus plagiatiarisme didalam internet. kita sebagai mahasiswa pendidikan sejarah pun tidak dapat memungkiri bahwa kegiatan plagiarisme selalu mengelilingi di sekitar kita, bahkan mungkin kita pun pernah mengalaminya atau bahkan melakukannya. perbuatan ini memang perbuatan yang tercela apalagi bagi kita sebagai mahasiswa sejarah yang sering membuat tugas karya ilmiah. oleh karena itu dalam pembuatannya kita tidak boleh asal menjiplak saja kalaupun itu mengutip kita harus mencantumkan sumber aslinya. kasus plagiarisme ini harus ditindak lanjuti mengingat bahwa kita setiap manusia memiliki pengetahuan dan kemampuan masing-masing sehingga tidak boleh ada lagi yang murni menjiplak karya orang lain dan agar wabah ini tidak terus menjamur pada generasi penerus bangsa.

    3. Langkah pertama dalam metodologi sejarah ialah heuristik, yakni suatu proses mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah. Kaitannya dengan kedua artikel ini yaitu bahwa dalam pembuatan artikel tersebut sepertinya penulis tidak melakukan heuristik dengan baik. Dan kaitannya dengan kita ialah bahwa artikel ini jangan kita jadikan sebagai referensi utama dalam pengkajian sejarah. bisa saja kita jadikan sebagai pengetahuan dasar.

    Ibu Prof maaf saya mengirimkan lagi, karena postingan comment saya dari tanggal 25 september 2011 pada pukul 21.15 tidak ada saja. padahal saya pun telah mengirimkannya berulang-ulang kali. terimakasih sebelumnya bu.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: